Ia menyebut biomass burning atau pembakaran biomassa juga dapat menjadi bahaya bagi penerbangan. Dampaknya tidak hanya pada mesin, tetapi juga dapat mengikis badan pesawat dan menggores kaca kokpit sehingga mengganggu visibilitas pilot.
Selain itu, muatan listrik statis dari partikel yang terbawa di udara juga berpotensi mengganggu komunikasi radio.
Karena itu, pesawat yang terpapar abu vulkanik maupun asap karhutla perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh setelah berada di darat. Prosedurnya meliputi pemeriksaan komponen mesin, pembersihan sensor vital, pengecekan filter udara, serta evaluasi terhadap potensi erosi dan korosi sesuai panduan pabrikan.
Hariyo mengingatkan, risiko terhadap penerbangan tetap perlu diperhatikan meski aktivitas gunung api maupun titik kebakaran telah mereda, karena material dapat tetap terbawa dan menyebar mengikuti kondisi atmosfer.
“Pembaruan data sebaran abu secara real-time, keberanian maskapai mengalihkan rute, serta ketelitian otoritas dalam membersihkan landasan pacu (runway) adalah harga mati demi keselamatan,” pungkasnya. (fia/bil/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

