Dalam pertemuan tersebut, pesantren mengusulkan agar pengelolaan makanan MBG untuk santri dapat dilakukan langsung oleh lembaga pendidikan yang menerima manfaat.
Gus Wahid menyebut, sistem itu dapat dipelajari dari praktik di Malaysia dan Singapura, dengan makanan dikelola oleh lembaga pendidikan kemudian didistribusikan langsung kepada santri atau siswanya.
“Kami usulkan. Tolong kita nyoba belajar dari negara jiran seperti Malaysia dan Singapura, untuk dikelolakan kepada lembaga pendidikan yang menerima manfaat itu untuk selanjutnya langsung didistribusikan kepada santri dan anak-anak atau murid-muridnya,” ujarnya, saat on air di Radio Suara Surabaya, Rabu (9/9/2026).
Menurut Gus Wahid, sistem tersebut juga dinilai lebih fleksibel karena jumlah makanan dapat disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat yang benar-benar aktif di sekolah.
Jika usulan tersebut disetujui pemerintah, Gus Wahid berharap pengelolaan MBG di pesantren dapat dilakukan langsung di bawah yayasan. “Jikalau di-ACC,” jawabnya ketika ditanya mengenai kemungkinan pengelolaan MBG langsung oleh yayasan.

NOW ON AIR SSFM 100

