Laksamana Pertama TNI Tunggul Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) menegaskan bahwa kapal milik Amerika Serikat yang melintasi Selat Malaka tidak melakukan pelanggaran, melainkan menjalankan hak lintas transit sesuai hukum laut internasional.
Pernyataan sebagai respons atas sorotan terhadap keberadaan kapal asing di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia itu.
“Menanggapi kapal asing yang melintas di Selat Malaka, bahwa hak kapal, termasuk kapal perang yang melintas di perairan tersebut merupakan Hak Lintas Transit (Transit Passage),” katanya dalam keterangan resmi pada Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, Selat Malaka berstatus sebagai jalur pelayaran internasional. Oleh sebab itu, kapal asing, termasuk kapal militer, memiliki hak untuk melintas tanpa hambatan selama mematuhi ketentuan yang berlaku.
Hak lintas transit tersebut diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), khususnya pada Pasal 37 dan 38 yang mengatur penggunaan selat untuk pelayaran internasional.
Indonesia sendiri telah meratifikasi UNCLOS melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985. Dengan ratifikasi ini, Indonesia mengakui Selat Malaka sebagai bagian dari jalur pelayaran internasional yang terbuka bagi kapal asing.
Meski demikian, TNI AL menekankan bahwa setiap kapal yang melintas tetap wajib menghormati kedaulatan Indonesia sebagai negara pantai. Kepatuhan terhadap aturan keselamatan dan perlindungan lingkungan menjadi syarat utama selama pelayaran berlangsung.
“Selama kapal asing tersebut lintas transit juga tidak boleh melanggar ketentuan sesuai dengan Convention on the International Regulations for Preventing Collisions at Sea (COLREG) 1972 tentang pencegahan tubrukan di laut dan Marine Pollution (Marpol) tentang pencegahan pencemaran berasal dari kapal,” tutur Tunggul dilansir dari Antara.
Sebelumnya, kapal perang USS Miguel Keith dilaporkan melintas di sekitar Selat Malaka pada pekan lalu. Keberadaan kapal tersebut sempat memicu perhatian publik karena belum ada penjelasan resmi terkait misinya.
Di sisi lain, Jenderal Dan Caine Ketua Kepala Staf Gabungan AS sebelumnya menyatakan bahwa militer AS tengah memantau pergerakan kapal Iran di kawasan yang jauh dari Timur Tengah. Ia menyebut fokus operasi kemungkinan berada di wilayah Indo-Pasifik. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
