Menurut Yuga, sistem tersebut dirancang agar direksi bekerja berdasarkan target dan tidak sekadar menduduki jabatan.
“Direksi tidak boleh hanya menduduki jabatan dan berharap memperoleh hak pensiun tanpa menghasilkan kinerja,” tuturnya.
KBS sebenarnya menunjukkan perbaikan kinerja keuangan dengan membukukan laba sekitar Rp9 miliar pada 2025. Capaian tersebut diperoleh ketika perusahaan masih beroperasi tanpa Direktur Utama definitif.
Meski kinerja keuangan mulai membaik, kegagalan seluruh peserta pada psikotes sebelumnya dan minimnya pendaftar dalam seleksi terbaru memunculkan pertanyaan mengenai penyebab rendahnya daya tarik posisi tersebut.
Kondisi itu dapat berkaitan dengan beratnya tanggung jawab, standar seleksi, kebutuhan kompetensi yang sangat khusus, maupun dampak kasus hukum yang sedang menjadi perhatian publik.










