Pemkot mencatat, dari 22 ribuan driver ojol di Surabaya, 1.008-nya adalah perempuan dan telah terdata secara by name by address. Untuk mengurangi waktu kerja mereka di jalan, Pemkot memberikan sejumlah pelatihan, mulai dari memasak, tata rias, menjahit, membatik, hingga keterampilan lain yang dapat dikerjakan dari rumah.
Meski demikian, selama mengikuti pelatihan, mereka kehilangan kesempatan menarik penumpang maupun orderan. Hal itu yang menurut Ida, membuat sebagian ojol perempuan sulit meninggalkan pekerjaan utama mereka untuk fokus ke pelatihan.
Apalagi, hasil dari pelatihan masih butuh proses sebelum bisa menjadi uang. Beda dengan pendapatan sebagai ojol yang dapat langsung diterima setelah orderan selesai. Kondisi itu yang membuat pekerjaan di jalan tetap menjadi pilihan paling realistis bagi perempuan kepala keluarga.
“Salah satu faktornya adalah kalau ojol itu dia setiap hari langsung dapat uang begitu kan. Nah, kalau kegiatan yang sudah kita latih itu kan pasti butuh proses. Umpamanya kita kasih rombong, jualan kan enggak langsung laku,” kata Ida.
Ia membeberkan pada tahun lalu, DP3A-PPKB telah mendampingi sekitar 150 ojol perempuan melalui kelas memasak, tata rias, MUA, serta pemeriksaan kesehatan reproduksi. Sementara hingga Agustus tahun ini, diperkirakan pesertanya ada sebanyak 100 orang yang ikut pendampingan/pemberdayaan.
NOW ON AIR SSFM 100

