Meski telah mendapatkan pelatihan dan sarana usaha, sebagian peserta belum mampu mempertahankan kegiatan ekonomi barunya secara konsisten. Bantuan rombong maupun mesin jahit dalam beberapa kasus, justru tidak digunakan dalam jangka panjang karena usaha belum langsung memberikan penghasilan.
“Tidak serta-merta setelah kita lakukan pelatihan kemudian mereka bisa lepas dengan peningkatan ekonominya signifikan. Butuh proses dan waktu dan itu butuh semangat, semangatnya teman-teman ojol perempuan ini untuk bisa berjuang,” jelasnya.
Karenanya, Agus Hebi Djuniantoro Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya mengatakan, ke depan, program pemberdayaan akan disusun lebih terintegrasi. Jadwal pelatihan menyesuaikan waktu kerja peserta, misalnya digelar pada malam hari setelah mereka selesai menarik penumpang.
“Sebetulnya tidak hanya intervensi itu (tantangannya), tidak hanya pelatihan itu saja, tetapi yang lainnya ya opo carane (gimana caranya) orang ini tetap bisa mendapatkan penghasilan, tetapi dia juga mendapatkan ilmu untuk berkarya selain ojek gitu,” bebernya pada kesempatan yang sama.
Selain usaha, Pemkot turut mempertimbangkan pelatihan di sektor jasa, seperti tenaga kebersihan rumah tangga dan hotel. Peserta yang berminat dapat mengikuti pelatihan, sertifikasi, hingga magang berbayar sebelum diarahkan ke lapangan kerja yang tersedia.
Pemkot juga menilai pemberian bantuan tidak bisa dilakukan secara parsial. Pelatihan, sarana usaha, pemasaran, evaluasi pendapatan, dan pendampingan harus dilakukan secara terintegrasi agar program tidak menambah beban para ojol perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

