Kamis, 5 November 2026

Mengusung Tema Qarib, Festival Film Santri 2026 Siap Digelar 12-13 November

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Danial Rifki Juri FFS 2025 (kiri) menyerahkan penghargaan kepada Abu Yasid Ashari sutradara film pendek pemenang FFS 2025 kategori santri. Foto: Dokumen FFS

Festival Film Santri (FFS) 2026 bersiap kembali menyapa publik perfilman Indonesia. Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, festival yang mengusung tema Qarib atau dekat ini akan berlangsung di Balai Budaya Jawa Timur Cak Durasim, Surabaya pada 12-13 November 2026.

Antusiasme peserta pada penyelenggaraan tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga penutupan pendaftaran pada 5 September 2026, panitia mencatat sebanyak 195 karya film masuk ke meja kurator. Angka tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan perdana pada 2025 yang hanya menerima 125 karya.

Partisipasi tersebut memperlihatkan semakin luasnya keterlibatan komunitas perfilman, khususnya lingkungan pesantren, dalam perkembangan sinema nasional. Karya-karya yang diterima berasal dari 12 provinsi dan 45 kabupaten/kota di Indonesia, dengan keterlibatan 90 pesantren.

Menariknya, Festival Film Santri 2026 juga mendapat perhatian dari sineas internasional. Tiga film dari luar negeri turut masuk dalam daftar karya peserta, masing-masing satu film dari Mesir dan dua film dari Iran.

Pada penyelenggaraan tahun ini, FFS menghadirkan tiga kategori kompetisi, yakni film pendek kategori umum, film pendek kategori santri dan pelajar, serta penulisan kritik film. Kategori kritik film menjadi pembaruan dalam penyelenggaraan tahun kedua setelah belum dilombakan pada edisi sebelumnya.

Agus Samsuri Direktur Festival Film Santri 2026 mengatakan, penyelenggaraan tahun ini merupakan kelanjutan dari upaya membangun festival yang tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga wadah pengembangan sinema berbasis pesantren.

“Pada gelaran kedua, Festival Film Santri 2026 adalah fase lanjutan dari festival di tahun sebelumnya. Yaitu untuk memperkuat kualitas artistik, meningkatkan partisipasi pesantren, memperluas jaringan, dan membangun ekosistem sinema pesantren yang berkelanjutan,” kata Agus Samsuri.

Untuk kategori film pendek, baik kategori umum maupun santri dan pelajar, panitia mempercayakan proses penilaian kepada tiga tokoh dari latar belakang perfilman dan kebudayaan. Mereka adalah Nurman Hakim, sutradara sekaligus dosen; Inaya Wahid, budayawan; serta Sasti Gotama, sastrawan.

Sementara itu, kompetisi penulisan kritik film juga menunjukkan partisipasi yang cukup luas. Sebanyak 31 karya tercatat masuk dalam kategori tersebut. Para peserta berasal dari tujuh provinsi dan 16 kabupaten/kota di Indonesia.

Proses penjurian kategori kritik film melibatkan Adrian Pasaribu, pemimpin redaksi Cinema Poetica, serta Zaki Habibi, peneliti sekaligus dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Yogi Ishabib Direktur Program FFS 2026 menilai penyelenggaraan tahun ini semakin semarak dan mencerminkan semangat tema Qarib yang diusung festival. Tema tersebut menjadi pijakan untuk mendekatkan festival dengan masyarakat sekaligus memperluas jangkauan perfilman pesantren.

“Secara keseluruhan, gelaran Festival Film Santri tahun ini lebih semarak dan sesuai tema festival kami tahun ini, yakni Qarib. Kami berupaya semakin dekat dengan publik. Tahun ini ada kurang lebih 200 lebih film yang submit. Asal film itu tersebar dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Terdapat lebih dari 70 pesantren yang terlibat, dan juga ada film dari Iran dan Mesir,” ungkap Yogi Ishabib. (saf/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Gundukan Kerikil di Bratang Binangun

Truk Terguling di Menjelang Sembayat

Pengerjaan Jalan, Lalu Lintas Menganti Macet

Eits, Miring

Surabaya
Kamis, 5 November 2026
29o
Kurs