“Saya mendorong sekali, nanti saya akan bicara juga sama pimpinan yang mengelola MBG, untuk memastikan bahwa proses limbah yang ada di dapur-dapur MBG yang setiap hari memproduksi limbah, baik itu bekas makanan, maupun limbah cairnya (bisa teratasi),” jelasnya.
Menurut Jumhur, ITS memiliki paket teknologi yang saling melengkapi, mulai dari komposter untuk mengolah limbah makanan hingga instalasi pengolahan limbah cair yang mampu menangani air berminyak maupun air yang mengandung deterjen.
“Saya rasa, itu kalau dikombinasikan jadi satu package begitu buat food waste plus air berminyak biasanya ya, air berminyak atau deterjen juga ada di situ, masuk di situ, saya rasa itu satu paket yang menarik buat MBG. Apalagi harganya sangat masuk akal. Ini menurut saya berpotensi bisa kolaborasi bersama MBG,” ujarnya.
Sementara itu, Bambang Pramujati Rektor ITS mengatakan bahaa komposter yang dikembangkan kampusnya mampu mempercepat proses pengolahan limbah organik dibanding komposter konvensional.
“Kalau komposter biasanya itu butuh waktu sampai satu bulan, ini dalam 8 sampai 10 jam sudah jadi kompos, dengan cara dipanasi dan diaduk. Nah, ini Pak Menteri melihat potensi untuk bisa diimplementasikan di dapur SPPG, karena ada sisa makanan yang akan menjadi limbah,” ucapnya.

NOW ON AIR SSFM 100

