Selasa, 7 Juli 2026

Mewujudkan Gresik Bebas Genangan lewat Sistem Drainase Terintegrasi dan Partisipatif

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ida Lailatussa'diyah Kepala Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (CKPKP) Kabupaten Gresik; Mas'ud pengamat hidrologi; dan Achmad Ibrahim Nasrullah, perwakilan komunitas warga terdampak di Samanhudi saat talkshow di Radio Suara Surabaya, Selasa (7/7/2026). Foto: Septian Yudha Suara Surabaya

“Di wilayah perkotaan itu memang sangat sulit mencari lahan untuk resapan air. Sebagian besar air hujan langsung mengalir masuk ke saluran,” kata Mas’ud.

Karena itu, ia merekomendasikan agar penanganan banjir tidak hanya mengandalkan saluran pembuangan menuju laut. Pemerintah juga perlu memperkuat kolam retensi atau bosem, sumur resapan, biopori, ruang terbuka hijau, serta pengendalian tata ruang.

“Seharusnya air hujan itu tidak hanya langsung dialirkan ke drainase sampai ke laut, tetapi ditahan dulu. Ada istilahnya kolam retensi atau bosem,” ujarnya.

Selain infrastruktur, persoalan sampah juga menjadi perhatian. Saluran yang tersumbat sampah, sedimentasi, hingga bangunan permanen di atas drainase disebut menjadi salah satu pemicu genangan di beberapa kawasan, termasuk GKB dan sekitarnya.

Ida menegaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke saluran, membuka akses drainase yang tertutup, serta menghidupkan kerja bakti menjadi bagian penting dari upaya menciptakan kota yang lebih tangguh terhadap banjir.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Selasa, 7 Juli 2026
29o
Kurs