“Kesehatan reproduksi tidak bisa dipandang sempit. Di dalamnya juga terdapat upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang,” ujarnya.
Karena itu, Alissa berharap pendidikan kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap sebagai pembahasan yang tabu di lingkungan pesantren. Sebaliknya, materi tersebut perlu menjadi bagian dari pendidikan yang mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang aman dan mampu melindungi santri dari berbagai bentuk kekerasan.
Sementara itu, Evi Nilawaty Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan salah satu strategi penting dalam menurunkan angka kematian ibu sekaligus mencegah stunting.
Ia menyampaikan bahwa meskipun angka kematian ibu (AKI) di Indonesia terus menunjukkan tren penurunan, posisinya masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara ASEAN.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, AKI Indonesia turun dari 189 per 100.000 kelahiran hidup pada 2020 menjadi target 183 pada 2024, dengan sasaran mencapai 70 pada 2030 sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs).

NOW ON AIR SSFM 100

