Jumat, 28 Agustus 2026

Satu Konten, Seribu Persepsi: Guru Besar UK Petra Kenalkan Metode Phenomenography Digital

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Prof. Gatut Priyowidodo menyampaikan orasi ilmiahnya mengenai Phenomenography Digital. Foto: Humas UK Petra

Satu konten viral di media sosial bisa dilihat jutaan orang, tetapi tidak selalu menghasilkan pemahaman dan respons yang sama. Perbedaan pengalaman itulah yang menjadi perhatian Prof. Drs. Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D., Guru Besar pertama Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya.

Prof. Gatut resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi UK Petra dalam sidang pengukuhan di Auditorium Kampus Timur, Gedung Q UK Petra, Kamis (27/8/2026).

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Gatut memperkenalkan metode riset Phenomenography Digital, sebuah pendekatan untuk memetakan keberagaman pengalaman dan cara manusia merespons berbagai fenomena di ruang digital.

Menurutnya, masyarakat dapat melihat konten yang sama, tetapi memiliki persepsi, pengalaman, dan respons yang berbeda. Kondisi ini semakin penting dikaji ketika masyarakat hidup dalam ekosistem digital yang dipenuhi informasi, opini, dan konten viral.

“Kita tengah berada di era Post-Truth digital, sebuah masa di mana batasan antara fakta dan opini menjadi kabur,” kata Prof. Gatut.

Ia menjelaskan, informasi yang tidak benar dapat dianggap sebagai kebenaran ketika terus-menerus disebarkan dan diperkuat oleh subjektivitas maupun keyakinan pribadi.

Fenomena tersebut semakin relevan bagi generasi Z yang menjadikan ruang digital sebagai salah satu tempat utama untuk berdiskusi dan memperoleh informasi. Topik yang dibahas pun sangat beragam, mulai dari politik dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga drama Korea, drama China, musik, dan tren olahraga seperti padel.

Melalui Phenomenography Digital, Prof. Gatut ingin melihat bagaimana orang dengan latar belakang dan pengalaman berbeda memberikan makna terhadap fenomena digital yang sama.

Pendekatan tersebut, menurutnya, tidak hanya berguna untuk memahami perilaku pengguna media sosial. Metode itu juga dapat diterapkan untuk mengevaluasi layanan publik berbasis digital dengan melihat pengalaman warga atau citizen experience.

Salah satu contohnya adalah pengalaman masyarakat ketika menggunakan sistem Coretax milik Kementerian Keuangan. Dengan memetakan pengalaman pengguna, peneliti dapat melihat bagian-bagian layanan digital yang dirasakan berbeda oleh masyarakat.

Prof. Gatut Priyowidodo resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi UK Petra dalam sidang pengukuhan di Auditorium Kampus Timur, Gedung Q UK Petra, Kamis (27/8/2026). Foto: Humas UK Petra

Prof. Gatut mengatakan, tantangan terbesar di era post-truth adalah membedakan fakta dari persepsi yang terus diproduksi dan diperkuat di ruang digital.

Karena itu, ia menilai diperlukan sedikitnya tiga langkah untuk menghadapi persoalan disinformasi. Pertama, memperkuat literasi digital masyarakat secara masif dan berkelanjutan.

Kedua, media massa harus kembali menjalankan fungsi utamanya dengan memproduksi berita yang objektif. Ketiga, diperlukan kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.

“Jangan mentang-mentang objeknya digital langsung dianggap cocok pakai Phenomenography Digital. Kita harus tetap kritis menyaring informasi viral, fokus memahami keberagaman cara pandang orang, dan terus menggalinya hingga tuntas ke akar masalah agar tidak mudah tertipu oleh riuhnya persepsi semu di dunia maya,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima suarasurabaya.net. Jumat (28/8/2026).

Prof. Gatut merupakan dosen UK Petra sejak 2006 dan telah menulis lebih dari 10 buku di bidang komunikasi. Ia juga dipercaya sebagai Asesor Beban Kinerja Dosen LLDIKTI sejak 2016 hingga sekarang.

Pengukuhan tersebut sekaligus menjadi tonggak baru bagi pengembangan Ilmu Komunikasi di UK Petra. Dengan dikukuhkannya Prof. Gatut, jumlah Guru Besar yang aktif mengajar di UK Petra kini mencapai 17 orang.

Prof. Dr.(H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng., Rektor UK Petra mengatakan, gelar profesor bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi membawa tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan memberikan dampak bagi masyarakat.

“Menjadi profesor bukan sekadar tentang gelar, tapi tentang tanggung jawab untuk terus belajar, membagikan ilmu, dan membentuk manusia,” kata Rolly.

Menurutnya, Ilmu Komunikasi memiliki peran penting di tengah masyarakat yang semakin mudah berbicara, tetapi menghadapi tantangan untuk saling mendengarkan.

Karena itu, ilmu komunikasi diharapkan dapat menjadi jembatan untuk membangun pemahaman, menjembatani perbedaan, dan mendorong perubahan di tengah masyarakat digital.(ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 28 Agustus 2026
32o
Kurs