Selain itu, skema penjangkauan atau jemput bola yang dilakukan Dinas Sosial dan Kemensos untuk memenuhi kuota Sekolah Rakyat juga menjadi faktor.
Amiruddien menjelaskan, orang tua siswa akan cenderung setuju menyekolahkan anaknya jika menggunakan sistem pendaftaran karena berawal dari niat sendiri. Berbeda dengan skema penjangkauan langsung petugas, orang tua belum tentu ingin anaknya didaftarkan ke Sekolah Rakyat.
“Kalau pendaftaran kan niatnya dari awal. Kalau karena dia didatangi, itu tidak sebetulnya dari hati. Maka ada beberapa yang belum siap menitipkan anaknya ke asrama,” ujarnya.
Meski demikian, Amiruddien menyebut minat masyarakat menyekolahkan anaknya ke Sekolah Rakyat tingkat menengah relatif tinggi. Bahkan, sejumlah daerah telah memenuhi target kuota.
“Kalau SMP, SMA kebanyakan memenuhi. Bahkan ada yang jumlahnya sudah melampaui target,” katanya.

NOW ON AIR SSFM 100

