Pihaiknya berharap, kerja sama itu tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi diarahkan pada pengembangan kapasitas dan penguatan pusat kesehatan ibu.
“Riset mengenai perkembangan otak sejak masa prenatal diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membuka peluang lahirnya intervensi kesehatan yang lebih dini dan berbasis bukti,” ujarnya.
Rencana tersebut didorong oleh Prof. Hermanto Tri Joewono pembicara forum kesehatan Unusa dari Universitas Airlangga (Unair). Ia menggagas Pusat Studi Perkembangan Otak dan Kapasitas Kognitif Sejak dalam Rahim.
“Pembangunan kualitas manusia tidak seharusnya baru dimulai ketika anak memasuki usia sekolah, tetapi harus ditarik mundur sejak masa prakonsepsi dan kehidupan dalam kandungan,” ucapnya.
Studi tersebut diarahkan menjadi wadah penelitian multidisiplin yang mencakup kesehatan ibu, perkembangan janin, nutrisi, hingga tumbuh kembang anak.
“Pendekatan ini membuka ruang bagi penelitian yang mengintegrasikan aspek kesehatan ibu dan anak dengan perkembangan otak serta kapasitas kognitif sejak fase awal kehidupan,” pungkasnya. (ris/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

