Dia menjelaskan, dari skema MBG prasmanan ini anak-anak bisa mengambil pembelajaran lain seperti belajar secukupnya, bertanggung jawab pada makanan.
“Kalau skema prasmanan, anak-anak bisa mengambil makanan sesuai selera mereka dan bertanggung jawab untuk menghabiskan makanan itu agar tidak food waste. Kemudian anak-anak juga bisa terlibat dalam kegiatan piket, salah satunya mencuci piring setelah makan,” ungkapnya.
Martadi memahami kekhawatiran orang tua jika anak-anak harus ikut terlibat dalam penyajian MBG prasmanan di sekolah. Namun, dia meyakini kalau skema ini sudah dijalankan dan terorganisir, maka waktu pelaksanaannya pun sudah diatur sedemikian rupa agar tak mengganggu jam pelajaran.
“Soal kemudian repot ya pasti. Karena kan melayani prasmanan. Tetapi, kalau itu nanti bisa diatur dengan manajemen waktu yang lebih baik, sistem mekanisme pembagian kerja yang bagus, saya pikir kekhawatiran akan repot, akan menyita waktu itu nanti akan akan bisa terselesaikan,” jelasnya.(kir/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

