Kamis, 2 Juli 2026

Wawasan Polling SS: Rencana Pemerintah Ganti LPG ke CNG Direspon Beragam oleh Masyarakat

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan

Pemerintah berencana mengganti LPG subsidi tabung melon dengan CNG Merah Putih 3 Kg mulai Juli 2026 secara bertahap setelah melalui serangkaian pengujian prototipe, dengan memastikan standar keamanan dan infrastruktur distribusi.

Laode Sulaeman Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerangkan, tabung CNG Merah Putih saat ini sedang disiapkan sebagai pengganti LPG 3 Kg. Saat ini, belasan unit CNG Merah Putih sedang disiapkan untuk menjalani serangkaian pengujian di Lemigas.

Mengenai rencana pergantian LPG ke CNG Merah Putih, Radio Suara Surabaya melakukan polling ke pendengar dengan tajuk, “Siap atau Tidak LPG Diganti CNG?”. Hasilnya cukup beragam, ada yang setuju dengan rencana penggantian ini, namun ada juga yang tidak setuju.

Polling ini diambil dari media sosial Instagram @suarasurabayamedia dan secara langsung lewat pesan (WhatsApp) serta telepon yang masuk saat program Wawasan Polling berlangsung, sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.

Dalam diskusi di program Wawasan Polling Suara Surabaya, Kamis (2/7/2026), respons pengakses Suara Surabaya mengenai rencana penggantian LPG melon ke CNG Merah Putih, cukup beragam.

Berdasar data dari pendengar Radio Suara Surabaya yang bergabung melalui telepon dan pesan WhatsApp, sebanyak 87 persen atau 115 pendengar siap untuk mengganti LPG dengan CNG Merah Putih. Sedangkan 13 persen atau 17 pendengar, tidak siap.

Hasil berbeda ditunjukkan dari respon polling di Instagram @suarasurabayamedia. Sebanyak 63 persen atau 181 pengguna mengaku tidak siap dengan penggantian LPG ke CNG Merah Putih. Sedangkan 37 persen atau 108 pengguna, siap ganti ke CNG Merah Putih.

Mengenai rencana penggantian LPG ke CNG Merah Putih, Prof Bambang Sudarmanta peneliti dan pakar di Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) ITS menilai itu adalah terobosan positif. Mengingat, saat ini Indonesia memiliki memiliki cukup besar cadangan gas alam.

“Tapi, itu harus diikuti dengan pemahaman yang komprehensif terkait perbedaan LPG dan CNG,” katanya, saat onair di Radio Suara Surabaya.

Untuk diketahui, LPG dan CNG memiliki komposisi dasar yang berbeda. LPG didominasi oleh campuran gas Propana dan Butana. Sedangkan CNG berisi gas alam murni yang didominasi Metana.

Sementara dari segi wujud dan tekanan, LPG memiliki tekanan relatif rendah dengan bentuk cair. Sedangkan CNG, berwujud gas yang dikompresi ke dalam tabung dengan tekanan tinggi.

“Karena tekanan CNG mencapai 200 sampai 250 bar, maka dibutuhkan tabung khusus. Saat ini yang akan dipakai pemerintah adalah tabung tipe empat, yang terbuat dari komposit serat fiber polimer dengan serat karbon. Sehingga lebih ringan dan tahan korosi, meski harganya lebih mahal,” ungkapnya.

Migrasi ini, lanjutnya, lebih realistis untuk diterapkan dalam 2 hingga 3 tahun ke depan karena adanya kendala infrastruktur dan regulasi. Sehingga pemerintah disarankan untuk memulai proyek percontohan melalui jaringan gas (jargas).

Sementara di Surabaya sendiri, saat ini telah ada beberapa jargas yang sudah tertanam dan bisa dipakai seperti, di Rungkut dan Ngagel, serta di wilayah Pondok Jati, Sidoarjo.

Adapun Prof Bambang menyarankan pemerintah membentuk tim task force yang melibatkan para ahli untuk memastikan aspek keselamatan sebelum melakukan uji coba di empat kota besar.

“Jadi saya berpesan untuk pemerintah agar betul-betul menyiapkan secara matang rencana pemakaian gas CNG. Karena di satu sisi, gas CNG ini memang prospek, tetapi di sisi lain membutuhkan dukungan infrastruktur yang tidak bisa main-main atau asal-asalan,” tutupnya.(kir/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Kamis, 2 Juli 2026
31o
Kurs