Jumat, 3 April 2020

Seruan Penundaan Olimpiade Tokyo Kian Kencang

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Orang-orang yang mengenakan topeng pelindung terlihat di depan cincin Olimpiade Raksasa di area tepi laut di Taman Laut Odaiba di Tokyo. Foto: Reuters/Athit Perawongmetha

Seruan kepada panitia penyelenggara agar Olimpiade Tokyo 2020 ditunda semakin kencang setelah federasi atletik AS yang sangat berpengaruh juga mendesak agar pesta olah raga empat tahun sekali ini ditunda akibat pandemi virus corona.

Federasi atletik AS, USA Track and Field, menjadi federasi olahraga berpengaruh terakhir yang meminta Olimpiade ditunda setelah ketuanya Max Siegel, lewat sebuah surat meminta dengan segala hormat Komite Olimpiade dan Paralimpiade AS (USOPC) untuk mendukung penundaan Olimpiade Tokyo.

USOPC sendiri mengatakan terlalu dini membatalkan Olimpiade yang akan berlangsung dari 24 Juli sampai 9 Agustus itu. Suara ini sama dengan Thomas Bach Ketua Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang menyebut keputusan menunda Olimpiade sebagai prematur.

Siegel menulis, bahwa kesehatan dan keselamatan semua orang harus menjadi prioritas dan menekankan bahwa kondisi belakang ini membuat atlet-atlet atletik AS tidak bisa mempersiapkan diri untuk Olimpiade.

Tak hanya USATF, federasi renang AS atau USA Swimming juga meminta USOPC mendukung Olimpiade dimundurkan ke 2021.

“Kami mendesak USOPC, sebagai pemimpin Gerakan Olimpiade, untuk menggunakan suaranya dan berbicara atas nama atlet,” kata Tim Hinchey CEO USA Swimming dalam sebuah surat seperti dikutip AFP, Minggu (22/3/2020).

Langkah itu diikuti federasi renang Prancis yang menyebut Olimpiade Tokyo tak akan bisa diselenggarakan dengan baik dalam kondisi seperti sekarang.

Kemudian, Komite Olimpiade Norwegia (NOC) melakukan hal yang sama yang sebagian terdorong oleh larangan pemerintah Norwegia terhadap semua aktivitas olah raga yang lalu memperberat kesiapan atlet negara ini dalam berkiprah di Olimpiade jika diadakan tengah tahun ini.

“Rekomendasi tegas kami adalah Olimpiade di Tokyo tidak boleh dilangsungkan sebelum situasi COVID-19 benar-benar terkendali pada skala global,” kata NOC seperti dilaporkan Antara.

Badan atletik Inggris juga mempertanyakan urgensi menyelenggarakan Olimpiade musim panas ini di tengah ketidakpastian penyebaran COVID-19 yang sudah menewaskan hampir 11.500 orang di seluruh dunia.

Namun, Tomas Bach membela keputusan IOC menolak pembatalan Olimpiade. “Kita tinggal empat setengah bulan lagi dari Olimpiade,” kata Bach kepada New York Times. “Bagi kami, (penangguhan) adalah tak bertanggung jawab.”

Ketua USOPC Susanne Lyons sendiri meyakini panitia penyelenggara masih punya waktu. “Olimpiade kita bukan minggu depan, atau dua minggu dari sekarang. Itu empat bulan dari sekarang,” kata Lyons.(ant/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Trailler Tabrak Pembatas Jalan di Tol

Mobil Terbakar di Karah Indah 1

Penyemprotan Disinfektan di A.Yani

Surabaya
Jumat, 3 April 2020
26o
Kurs