Minggu, 24 Januari 2021

Banyak Hal Kontraproduktif bagi Demokrasi di Pilwali Surabaya 2020

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Muhibbin Zuhri Ketua PCNU Surabaya dan Mahsun Ketua PD Muhammadiyah Surabaya. Foto: Denza suarasurabaya.net

Baik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama maupun Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya menganggap, kontestasi Pilwali Surabaya 2020, terutama di masa kampanye, diwarnai hal-hal yang kontraproduktif bagi demokrasi.

Muhibbin Zuhri Ketua PCNU Surabaya mengatakan, kontestasi Pilwali Surabaya 2020 banyak diwarnai saling olok antar kedua kubu daripada adu gagasan dan visi misi.

“Karena tidak hanya gagasan yang dipertarungkan, tapi juga olok-olok, juga agitasi-agitasi yang tidak semestinya. Kami khawatirkan ini berdampak pada keharmonisan baik sekarang maupun pascapilkada,” ujarnya.

Muhibbin menyampaikan ini dalam konferensi pers tentang Seruan Bersama PCNU dan PD Muhammadiyah menjelang pelaksanaan pemungutan suara Pilwali Surabaya 2020 di salah satu hotel di Surabaya, Jumat (4/12/2020).

Dagangane dewe (sendiri) enggak disinggung, yang disinggung dan dikedepankan kejelekan dagangan orang lain. Itu bikin geger. Jadi harusnya kita jualan apa, itu dikumpulkan, enggak masalah dalam kampanye. Tidak usah disertai kejelekan dagangan orang lain,” ujarnya.

Mahsun Ketua PD Muhammadiyah Surabaya menyatakan hal senada. Karena dalam Pilwali kali ini hanya ada dua Paslon, pada akhirnya masyarakat harus memilih salah satu, kalau tidak yang ini, ya, yang itu.

“Sehingga potensi untuk berkonfrontasi itu sangat-sangat terbuka. ‘Saya harus menang lebih dari dia, sebaliknya dia juga begitu.’ Sehingga yang sering kita lihat di media massa itu, keduanya saling nyondro,” ujarnya.

Istilah Nyondro, Mahsun menjelaskan, adalah saling menunjuk hidung lawannya. Menunjukkan bahwa lawannya itu jelek dan sebagainya. Menurutnya, yang terjadi dalam proses kampanye Pilwali Surabaya seperti itu.

“Juga kemungkinan terjadi all-out masing-masing dan berpotensi seperti Pilpres kemarin (2019). Karena calonnya hanya dua, sehingga head to head ya. Sehingga yang kalah itu ingin berbuat sesuatu untuk membela dirinya,” ujarnya.

Mahsun menegaskan, siapapun yang menang dalam Pilwali Surabaya 2020 yang akan pemimpin warga Surabaya. Hal itulah yang menurutnya perlu disadari oleh seluruh warga Kota Surabaya

“Jadi ini merupakan pendewasaan cara kita berpolitik, berdemokrasi. Karena suarabaya ini mayoritas umat Islam, tentu umat islam-lah yang paling berat tanggung jawabnya untuk mengelola perbedaan, mengelola persaingan, dan termasuk perseteruan. Kita arahkan pada yang bagaimana?”

Muhibbin menambahkan, PCNU sendiri merasa berkewajiban untuk mendidik warga Surabaya agar memposisikan perbedaan pilihan sebagai suatu kelaziman di dalam demokrasi.

“Jadi, seharusnya yang dibangun adalah pertarungan gagasan, berkontestasi untuk melahirkan citra yang baik tanpa menjatuhkan orang lain. Yang bikin geger kan di situ,” katanya.

Melalui Seruan Bersama dengan PD Muhammadiyah inilah, kata Muhibbin, PCNU bersama Muhammadiyah sebagai organisasi islam terbesar berupaya mengedukasi masyarakat supaya menjadi pemilih cerdas.

“Jangan sampai demokrasi ini membawa korban yang tidak dikehendaki. Yaitu tercabiknya keharmonisan warga,” ujarnya.(den/tin)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pak Nunut Pak …

Jelang Tol Manyar Banjir

‘Ranjau’ di Bawah Layang Trosobo

Empat Stand Pasar Ikan Hias Gunung Sari Terbakar

Surabaya
Minggu, 24 Januari 2021
23o
Kurs