Selasa, 22 September 2020

Pengamat: PDIP Sedang Memainkan Strategi Membutakan Peta di Pilwali Surabaya

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Tri Rismaharini Ketua DPP PDIP Bidang Kebudayaan di suatu kesempatan mengikuti pelantikan Pengurus Anak Ranting PDIP Surabaya. Foto: Istimewa

Hingga kini, PDI Perjuangan belum juga mengumumkan nama pasangan calon di Pemilihan Wali Kota Surabaya yang bakal digelar 9 Desember mendatang. Sedangkan partai lain telah mengumumkan jagoannya yaitu Machfud Arifin.

Surokim Abdussalam Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menilai, meski belum mengumumkan jagoannya, itu bukan berarti PDIP tak siap menghadapi Pilwali Surabaya. Dia menyebut pengumuman pasangan calon di Pilwali Surabaya sebagai strategi untuk menghadapi Machfud Arifin yang telah memborong dukungan hampir semua partai.

”PDIP jelas sangat siap. Kalaupun PDIP berjuang sendiri melawan koalisi besar (Machfud Arifin), itu tidak jadi masalah. Tidak ada istilah koalisi gajah lawan semut di Pilwali Surabaya. Ini gajah lawan gajah,” kata Surokim Abdussalam, Sabtu (15/08/2020).

Menurut dia, wajar jika PDIP belum mengumumkan nama calonnya di Pilwali Surabaya. Toh, PDIP sudah mempunyai syarat kecukupan kursi untuk mencalonkan wali kota dan wakilnya.

”Memang ini plus-minus kalau sampai saat ini PDIP belum beri rekomendasi. Plusnya, PDIP bisa menyembunyikan peta kekuatannya, yang membuat lawannya menjadi buta terhadap kekuatan dan strategi PDIP. Kan sudah terbukti, hingga sekarang Pak Machfud Arifin, belum menentukan siapa wakilnya, itu salah satunya karena menunggu calon PDIP,” lanjut Surokim.

Namun, minusnya, di masa pandemi Covid-19 ini model kampanye berbeda dibanding sebelumnya yang memungkinkan pengumpulan massa. ”Ini masa pandemi. Butuh waktu lama untuk sosialisasi karena harus benar-benar patuh protokol kesehatan,” ujarnya.

Surokim pun membeberkan, sejumlah faktor bagaimana kekuatan dan kesiapan PDIP di Pilkada Surabaya yang tidak bisa dipandang remeh.

Pertama, faktor sejarah dalam pemilu langsung, di mana PDIP selalu menang di Surabaya. ”Ini bisa mempengaruhi warga untuk memilih lagi,” ujarnya.

Kedua, karakteristik warga Kota Surabaya yang identik dengan kota perjuangan bisa digarap PDIP dengan baik. “Lihat saja, PDIP selalu mengusung jargon gotong royong. Meski pemilih di Surabaya sangat heterogen, tetapi gotong royong itu bisa masuk ke masyarakat langsung,” lanjutnya.

Tak heran, jika PDIP punya pemilih yang solid. Rata-rata selama ini berdasarkan statistik kajian pemilu, pemilih partai yang patuh pada rekomendasi partai dalam Pilkada hanya sekitar 30-50 persen.

“Tapi, PDIP berbeda. Loyalitas orang yang memilih PDIP untuk mengikuti rekomendasi PDIP di Pilkada bisa tembus 60 persen. Apalagi, PDIP pernah mengusung calon dan menang di Surabaya, lalu dianggap sebagai sosok yang sukses membawa Surabaya, yaitu Bu Risma. Ini akan menambah kepercayaan masyakarat terhadap PDIP dan calonnya di Surabaya,” katanya.

Sekadar diketahui, DPP PDIP sudah beberapa tahap telah mengumumkan pasangan calon (paslon) yang akan diusung di Pilkada Serentak 9 Desember 2020 di berbagai daerah di Jatim. Namun, kandidat PDIP di Pilwali Surabaya masih disembunyikan hingga kini.

Sementara delapan partai lain seperti PKB, PAN, PPP, PKS, Nasdem, Demokrat, Gerindra, dan Golkar telah mengumumkan siap menyokong Machfud Arifin sebagai kandidat Wali Kota. Meski sampai sekarang, pasangan pendampingnya juga belum diumumkan. (bid/tin/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Meinara Iman Dwihartanto

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Selasa, 22 September 2020
31o
Kurs