Senin, 20 Juli 2026

Hari Lahir Pancasila, PDIP Kritik Keras Kondisi Ekonomi Nasional

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Hasto Kristiyanto Sekjen DPP PDIP saat menjadi pemimpin upacara dalam peringatan hari Pancasila di Masjid At Taufiq Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026). Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar DPP PDI Perjuangan pada Senin (1/6/2026) menjadi panggung kritik terhadap kondisi ekonomi nasional.

Dalam upacara yang berlangsung di Halaman Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Hasto Kristiyanto Sekretaris Jenderal DPP PDIP menyoroti pelemahan rupiah, tingginya utang negara, hingga maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dinilai sebagai sinyal memburuknya kondisi perekonomian.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Hasto menyampaikan amanat Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDIP sekaligus menegaskan bahwa semangat Pancasila harus diwujudkan melalui kebijakan ekonomi yang berpihak kepada rakyat.

Di hadapan kader PDIP yang hadir dari berbagai daerah, Hasto mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi fiskal nasional.

Menurutnya, defisit transaksi berjalan dan keseimbangan primer APBN yang masih negatif menunjukkan adanya persoalan mendasar yang harus segera dibenahi.

“Defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama tahun 2026 dan keseimbangan primer yang negatif dalam APBN kita sangatlah mengkhawatirkan. Utang harus dibayar dengan utang, gali lubang tutup lubang,” kata Hasto dalam amanatnya.

Ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan bukan sekadar persoalan pasar, melainkan mencerminkan masalah yang lebih serius.

“Terlebih dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini yang menggambarkan adanya persoalan yang bersifat struktural dan ada persoalan terkait dengan kepercayaan,” ujarnya.

Hasto juga mengkritik arah belanja negara yang menurutnya masih didominasi pendekatan populis untuk kepentingan elektoral, alih-alih memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Dia menyebut gagasan rekonsolidasi fiskal yang selama ini diperjuangkan PDIP bertujuan membangun ketahanan fiskal jangka panjang.

“Usulan rekonsolidasi fiskal yang kami sampaikan melalui konsep Fiscal Resilience masih diwarnai oleh berbagai bentuk belanja negara yang bersifat populis dengan harapan elektoral,” tegasnya.

Menurut Hasto, dampak dari kebijakan ekonomi yang tidak tepat sasaran kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kenaikan harga pangan, meningkatnya angka kemiskinan, sulitnya mencari pekerjaan, hingga gelombang PHK menjadi persoalan yang semakin mengkhawatirkan.

“Berbagai persoalan kenaikan harga kebutuhan pangan rakyat, kemiskinan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan pemutusan hubungan kerja kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan,” katanya.

Lebih jauh, Hasto menegaskan bahwa rekonsolidasi fiskal bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan bagian dari perjuangan politik untuk memastikan negara hadir bagi rakyat kecil.

“Rekonsolidasi fiskal yang kami usulkan bukan sekadar teknis, tapi soal keberpihakan pada rakyat, bukan pada ambisi kekuasaan,” ujar Hasto.

Upacara Hari Lahir Pancasila ke-81 tersebut dihadiri sejumlah tokoh PDIP, antara lain Ganjar Pranowo, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Tri Rismaharini, Yasonna Laoly, Charles Honoris, Deddy Sitorus, Mercy Chriesty Barends, hingga Bintang Puspayoga.

Sementara Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDIP mengikuti kegiatan secara daring.

Menutup amanatnya, Hasto menyampaikan pesan Megawati kepada seluruh kader partai agar tetap konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Jadilah banteng-banteng sejati yang membela setiap rakyat yang tertindas di seluruh lapisan Indonesia kita,” pungkasnya.(faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Senin, 20 Juli 2026
27o
Kurs