Ia menjelaskan, ungkapan syubbanul yaum, rijalul ghad memiliki makna bahwa pemuda hari ini merupakan calon pemimpin di masa depan. Karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan memperkuat pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Ning Lia juga menilai demokrasi tidak semestinya hanya dipahami sebagai proses politik atau sekadar aktivitas pemilu. Lebih dari itu, demokrasi membutuhkan etika, keteladanan, dan kemampuan untuk menghargai perbedaan.
“Kalau kita berada dalam unsur pemerintahan, kita harus memberikan uswatun hasanah. Kita memberikan pemahaman tentang demokrasi yang baik,” katanya.
Menurutnya, generasi muda memiliki ruang yang luas untuk membangun budaya demokrasi yang sehat. Hal itu dapat dilakukan melalui keberanian menyampaikan gagasan, keterlibatan dalam diskusi publik, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.
Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan harus disikapi secara dewasa agar tidak berubah menjadi pertentangan yang merusak persatuan.

NOW ON AIR SSFM 100

