Menurutnya, masyarakat Sumatera Barat cenderung lebih kritis karena didukung tingkat pendidikan, pendapatan, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat isu-isu politik lebih menentukan pilihan dibandingkan program bantuan.
Sebaliknya, di NTT, orientasi persamaan kepentingan berupa program, bantuan, maupun kedekatan kandidat dengan masyarakat menjadi faktor yang lebih dominan dalam memengaruhi pilihan politik.
Pangi mengatakan, temuan tersebut turut menjelaskan mengapa pemilih partai politik tidak selalu memberikan suaranya kepada calon presiden yang diusung partai yang sama. Fenomena split ticket voting itu, menurutnya, terus terlihat dalam setiap pemilu sejak 2004 hingga 2024.
Penelitian itu, kata dia, juga menemukan bahwa faktor figur atau personalisasi kandidat tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku split ticket voting di kedua wilayah.
Hasil tersebut berbeda dengan anggapan yang selama ini menempatkan popularitas kandidat sebagai faktor utama penentu pilihan politik.

NOW ON AIR SSFM 100

