Selasa, 25 Agustus 2026

Ujang Komarudin: Jangan Ada Intervensi Kekuasaan dalam Pemilihan Rais Aam PBNU

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Ujang Komarudin Pengamat Politik. Foto: istimewa

Ujang Komarudin Pengamat politik mengingatkan agar proses pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU berlangsung independen dan terbebas dari kepentingan kekuasaan.

Menurut Ujang, NU memiliki posisi historis yang kuat sebagai salah satu elemen penting dalam perjalanan berdirinya bangsa Indonesia. Karena itu, NU dinilai harus mampu menjaga kemandirian organisasi dan tidak berada di bawah pengaruh kekuasaan.

“NU adalah pendiri bangsa. Karena NU pendiri bangsa, maka nilainya harus lebih tinggi. Jangan sampai NU terkooptasi oleh kepentingan istana,” ujar Ujang dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).

Ujang mengatakan, proses pemilihan Rais Aam harus mengutamakan aspirasi warga NU. Ia menilai tidak elok apabila terdapat campur tangan kepentingan politik praktis dalam menentukan figur yang akan menduduki posisi tersebut.

“Kalau Rais Aam terpilih ada intervensi kepentingan kekuasaan, maka ini akan menjadi sesuatu yang kurang elok,” katanya.

Ia menilai Rais Aam bukan sekadar jabatan struktural, melainkan memiliki peran penting dalam menjaga arah moral dan keumatan NU. Karena itu, figur yang dipilih harus memiliki legitimasi kuat dari kalangan Nahdliyin serta mampu menjaga independensi organisasi.

Ujang juga mengingatkan bahwa NU selama ini memiliki peran strategis sebagai kekuatan masyarakat sipil. NU kerap menjadi penyeimbang sekaligus berkontribusi dalam meredakan berbagai ketegangan sosial dan politik.

“Kalau ada isu Rais Aam-nya digadang-gadang oleh kepentingan kekuasaan, maka sangat merugikan kalangan NU,” tegas Ujang.

Ia berharap Muktamar ke-35 NU dapat menghasilkan Rais Aam yang benar-benar mendapatkan mandat dari umat dan mampu menjaga marwah organisasi.

Menurut Ujang, independensi menjadi hal penting agar NU tetap memiliki daya kritis serta posisi tawar yang kuat dalam kehidupan kebangsaan.

“Rais Aam harus lahir dari mandat umat, bukan dari kepentingan kekuasaan. Dengan begitu, roh dan independensi NU tetap terjaga,” pungkasnya. (faz/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Selasa, 25 Agustus 2026
27o
Kurs