Jumat, 3 Desember 2021

Labirin 25, Misteri Pereda Stres Perempuan Kala Pandemi

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Vika Wisnu penulis dan dosen saat menyampaikan narasi di peluncuran Labirin 25 secara online. Foto: totok suarasurabaya.net

Labirin 25 adalah kumpulan cerpen kisah misteri yang ditulis 25 perempuan. Bukan sekadar tulisan, tapi satu cara mengatasi segala keruwetan psikologis dan fisik di tengah masa pandemi Covid-19 yang belum usai.

Wina Bojonegoro, pendiri Padmedia Publisher, penerbit buku tersebut mengatakan, menulis bisa menjadi satu di antara cara pemulihan stres.

“Ketika seruan untuk Work From Home di rumah saja dan menjaga jarak, berefek sangat berat bagi psikologis perempuan. Meskipun secara terbuka jarang diakui,” ujarnya.

Beban pekerjaan pun bertambah dengan adanya kebijakan sekolah daring. Ibu yang sebelumnya tidak perlu memahami matematika, mendadak harus menjadi ahli matematika. Ibu yang sudah lupa pelajaran bahasa Inggris, mendadak harus menjadi guru bahasa Inggris.

Kegiatan memasak yang sebelumnya mungkin hanya keperluan sarapan atau makan malam, sekarang wajib memasak untuk makan siang juga. Kesibukan-kesibukan itu secara psikologis membebani perempuan dan potensial menciptakan gangguan kesehatan mental. Seperti sebuah labirin yang “menjebak” banyak orang dalam kebuntuan berpikir dan kreativitas.

“Betapa hebatnya perempuan dalam mengatasi kondisi pandemi. Mereka melampaui tantangan, hambatan, dan ancaman menjadi peluang,” ujar Wina.

Wina lantas menceritakan, para penulis Labirin 25 merupakan siswa-siswa atau murid kelas menulis fiksi Padmedia Publisher batch 2.

Wina selaku “kepala sekolah” memberikan bimbingan pada murid-muridnya dalam kelas menulis yang mereka pelajari selama lebih kurang 10 minggu, dengan melibatkan 10 guru. Selama proses pembelajaran seluruhnya dijalankan dengan daring mengingat situasi dan kondisi pandemi Covid-19 yang belum rampung.

“Sengaja dipilihkan kisah misteri, tujuannya agar para murid mampu meliarkan imajinasi, menggali potensi terdalam. Bahkan mungkin tidak disadari oleh mereka bahwa kemampuan itu ada pada masing-masing mereka,” kata Wina yang juga novelis.

Desakan yang memunculkan kreativitas itu terbukti. Dengan batasan waktu yang direncanakan sedemikian rupa, ternyata para murid ini mampu memaksakan diri mengerahkan segala kemampuan untuk mampu menyelesaikan tugas akhir.

Bentuk tugas akhir itu adalah sebuah cerpen, yang menggali kisah misteri. Selain arahan, pembantaian naskah juga menjadi bagian proses dalam kelas selama pembelajaran. Wina berharap kepada para murid untuk belajar, bukan hanya menulis. Sekaligus juga membaca dan mengkritisi.

Selain tujuan kreativitas dalam menulis, Wina sejatinya lebih mendorong peserta kelasnya atau para muridnya itu mampu menerapi diri mereka sendiri saat menghadapi pandemi, seperti saat ini.

Peluncuran Labirin 25 secara daring sudah dilaksanakan Desember 2019 lalu, berkaitan sekaligus dengan peringatan Hari Ibu. Hadir pada peluncuran Labirin 25 secara daring saat itu di antaranya, Oka Rusmini novelis tinggal di Bali, Vika Wisnu penulis yang juga dosen komunikasi tinggal di Surabaya, dan tentu saja Wina Bojonegoro.

Sekedar catatan, selama pandemi Covid-19 Padmedia Publisher telah melahirkan 3 kelas menulis fiksi. Diikuti peserta dari berbagai kota. Bahkan dari mancanegara, di antaranya Hongkong dan Turki. Batch 1 telah melahirkan buku Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini, batch 2 menghadirkan Labirin 25, dan sementara di batch 3 tengah berjuang menghadapi tugas akhir, berupa buku kumpulan cerpen dengan judul Anomali.

Wina yang juga kerap menghasilkan karya-karya sastra berharap akan lahir karya-karya sastra pilihan yang diproduksi para perempuan. “Bahkan karya sastra dari para perempuan yang semula tak bisa menulis, sekali pun,” pungkas Wina, Sabtu (2/1/2021).(tok/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Jumat, 3 Desember 2021
30o
Kurs