Kamis, 7 Juli 2022

Kreasi Mahasiswa Undika, Cap Batik Motif Budaya Kota Jombang dari Limbah Duplex

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Nabila Ali alumnus S1 Program Studi Desain Produk Universitas Dinamika (Undika) Surabaya membuat kreasi cap batik memanfaatkan limbah duplex. Foto: Humas Undika

Nabila Ali alumnus S1 Program Studi Desain Produk Universitas Dinamika (Undika) Surabaya membuat kreasi cap batik memanfaatkan limbah duplex.

Bahan duplex yang seringkali berakhir menjadi kumpulan sampah plastik, dikreasikan mahasiswa angkatan 2017 ini menjadi motif cetakan batik dengan mengangkat kebudayaan Kota Jombang.

“Jadi motif cetakan yang saya buat ini mengandung filosofi Kota Jombang dengan unsur-unsur di dalamnya ada motif bangunan ringin contong, buah durian, dan jambu bol Gondang,” ujar Nabila.

Selain karena Jombang adalah kota kelahirannya, alasan Nabila membuat cap batik adalah untuk melestarikan budaya Kota Jombang lewat batik karena motif-motif tersebut belum banyak diaplikasikan.

Dalam proses pembuatannya, Nabila memilah limbah duplex yang masih layak digunakan, kemudian dibuat pola sesuai dengan desain yang diinginkan.

Setelah pola terbentuk, duplex dipasang pada sebuah triplek yang pada bagian belakang sudah diberi pegangan untuk mempermudah proses membatik. Cetakan motif tersebut lalu dimasukkan ke dalam cairan malam yang sudah dipanaskan agar lebih kuat dan kokoh.

“Dari proses yang sudah saya lakukan, proses menempelkan desain ke kertas duplexnya cukup detail sehingga saya harus teliti,” ungkap mahasiswa yang juga sempat magang di UD. Griya Amira ini.

Karya yang Nabila buat selama satu semester ini pun diapresiasi oleh Yosef Richo Adrianto dosen pembimbingnya.

“Ini hal yang bagus ya karena ini mendukung Eco Campus yang memang dilakukan oleh Undika karena bahan yang digunakan aman dan ramah lingkungan,” ujar Richo yang juga merupakan Kepala Program Studi S1 Desain Produk Universitas Dinamika.

Selain itu, Richo menuturkan bahwa melalui karya inovasi ini juga merupakan salah satu cara untuk membantu memperkenalkan seni budaya di daerah tertentu.

“Seni budaya batik ini perlu dikembangkan lagi sesuai dengan filosofi dan ciri khas daerah yang diangkat,” tutur Richo.

Melalui ini, Richo berharap bisa melakukan riset-riset bersama para mahasiswa Desain Produk yang lain dengan tujuan untuk membantu para pelaku UMKM khususnya perajin batik.

“Terlebih di pemanfaatan teknologi ya, menurut saya para pekerja lokal perlu dibina untuk bisa memanfaatkan teknologi untuk bidang usahanya,” ungkapnya.(dfn/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Kamis, 7 Juli 2022
27o
Kurs