Jumat, 28 Agustus 2026

Sering Minum Manis? Studi Temukan Risiko Kanker Lambung Bisa Lebih Tinggi

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Ilustrasi minuman manis. Foto: istockphoto

Kebiasaan mengonsumsi minuman dengan pemanis tambahan setiap hari perlu diwaspadai. Sebuah studi menemukan, orang yang mengonsumsi sedikitnya satu minuman berpemanis tambahan per hari memiliki risiko terkena kanker lambung lebih tinggi dibandingkan mereka yang sangat jarang mengonsumsinya.

Temuan yang dipublikasikan dalam Gastro Hep Advances, seperti dilansir Antara, Jumat (28/8/2026) itu menunjukkan, konsumsi setidaknya satu minuman berpemanis tambahan setiap hari berkaitan dengan risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi.

Hubungan tersebut ditemukan pada laki-laki maupun perempuan. Risiko pada perempuan tercatat lebih tinggi hingga tiga kali lipat, sedangkan pada laki-laki sekitar dua kali lipat.

Para peneliti kemudian melihat apakah infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) menjadi penyebab hubungan tersebut. Bakteri ini diketahui sebagai salah satu faktor risiko kanker lambung.

Namun, hasil penelitian menunjukkan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis tambahan dan kanker lambung tidak berkaitan dengan infeksi H. pylori.

Peneliti juga menemukan asupan fruktosa yang lebih tinggi, yang merupakan salah satu pemanis utama dalam minuman, berkaitan dengan peningkatan risiko kanker lambung pada seluruh kelompok peserta dan terutama perempuan.

Menariknya, hubungan serupa tidak ditemukan pada minuman yang menggunakan pemanis buatan. Konsumsi minuman berkarbonasi rendah kalori, misalnya, tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung dalam penelitian tersebut.

Penelitian ini menggunakan data dari dua studi kesehatan jangka panjang di Amerika Serikat, yakni Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study.

Sebanyak 112.284 peserta dilibatkan dalam analisis dan selama periode penelitian ditemukan 278 kasus kanker lambung. Pola konsumsi makanan dan minuman peserta dipantau melalui kuesioner setiap empat tahun, sementara informasi mengenai gaya hidup, riwayat medis, dan kondisi kesehatan diperbarui setiap dua tahun.

Peneliti mengelompokkan minuman menjadi dua kategori, yakni minuman dengan pemanis tambahan dan minuman dengan pemanis buatan. Minuman dengan pemanis tambahan mencakup minuman berkarbonasi, punch, limun, dan minuman olahraga.

Sementara itu, minuman dengan pemanis buatan mencakup minuman berkarbonasi rendah kalori. Konsumsi peserta dikategorikan mulai kurang dari satu porsi per bulan hingga lebih dari satu porsi per hari, dengan ukuran satu porsi sekitar 8 ons atau 237 mililiter.

Saat peserta dilaporkan mengalami kanker lambung, peneliti melakukan konfirmasi melalui catatan medis atau registri kanker jika tersedia. Analisis juga memperhitungkan sejumlah faktor risiko lain, termasuk konsumsi daging merah dan daging olahan.

Meski menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis tambahan dan kanker lambung, peneliti menegaskan diperlukan penelitian lebih lanjut. Studi tersebut bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan bahwa minuman berpemanis secara langsung menyebabkan kanker lambung.

Selain itu, sebagian besar peserta merupakan tenaga kesehatan berkulit putih yang mulai mengikuti penelitian saat berusia 30 hingga 75 tahun. Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum tentu dapat digeneralisasi ke kelompok ras dan etnis lain maupun orang dewasa yang lebih muda.

Jumlah kasus kanker lambung yang ditemukan juga relatif kecil dibandingkan total peserta. Karena itu, peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian masih dapat memiliki tingkat ketidakpastian tertentu.

Faktor risiko kanker lambung yang telah diketahui sebelumnya antara lain infeksi H. pylori, konsumsi alkohol berlebihan, kebiasaan merokok, usia lanjut, serta laki-laki. Temuan terbaru ini menambah bukti mengenai pentingnya memperhatikan pola konsumsi minuman dalam kaitannya dengan kesehatan jangka panjang.(ant/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 28 Agustus 2026
31o
Kurs