Jumat, 16 Oktober 2026
Konsumsi Semen Terus Naik

Kinerja Holcim Menguat

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Konsumsi semen nasional terus menanjak hingga saat ini setelah sempat anjlok beberapa tahun imbas krisis ekonomi tahun 1997. Bahkan tahun 2003, tercapai konsumsi tertinggi sama dengan tahun 1997 yakni 27,4 juta ton.

RUSLI SETIAWAN Relationship Management Director PT Holcim Indonesia Tbk pada suarasurabaya.net, Jumat (05/10), di sela buka puasa bersama Media Surabaya, mengatakan, setahun setelah krisis yakni 1998, konsumsi semen merosot sampai 19 juta ton atau turun 35%. Tahun 1999 hanya mencapai 18,8 juta.

“Setelah 2003, kondisi membaik dan mempengaruhi konsumsi nasional. Mulai 2006 kemarin sudah di atas 31 juta ton dan tahun ini diprediksi tumbuh 78% atau sekitar 33 juta ton,”kata RUSLI.

Menurut RUSLI, tinggi rendahnya konsumsi semen saat ini dipengaruhi perkembangan ekonomi secara makro. Kalau dulu sebelum krisis, selalu membuat perkiraan konsumen semen berdasarkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. Misalnya, jika pertumbuhan ekonomi 5%, konsumsi semen diprediksikan naik 10%.

Saat ini tidak bisa menggunakan formula itu tapi melihat perkembangan ekonomi secara makro. “Kondisi ekonomi makro mulai membaik, stabilitas nilai tukar cukup baik dan inflasi terkontrol serta bunga bank juga baik. Ini akan semakin mendorong sektor rill, meningkatkan daya beli, pembangunan semakin banyak dan terakhir konsumsi semen akan meningkat,”paparnya.

Pertumbuhan semen sekarang juga makin banyak di luar Jawa dibanding di Jawa sendiri. Ini dipengaruhi pembangunan yang makin agresif di luar Jawa. Kalau dilihat secara umum, konsumsi semen di Jawa Timur terhadap nasional sebesar 30%, sedangkan Jawa terhadap nasional 58%.

Sementara kondisi bahan baku semen, RUSLI menilai, secara nasional masih mencukupi untuk jangka panjang. Hanya saja deposit bahan baku semen juga akan dipengaruhi seberapa cepat pertumbuhan konsumsi nasional.

Deposit bahan baku semen Holcim sendiri, prediksi RUSLI, bisa digunakan dalam jangka waktu 100 tahun. Sedangkan produksi semen yang dominan memberikan kontribusi adalah semen kantong sebesar 80%-85%. Sisanya, semen curah meski saat ini banyak proyek pembangunan skala besar.

Seiring dengan pertumbuhan konsumsi semen nasional, RUSLI menjelaskan, ini juga berimbas pada volume penjualan semen dan klinker menjadi 3,2 juta ton ditambah penjualan beton menjadi 464.000 m3. Pendapatan penjualan tumbuh sebesar 17% menjadi Rp 1,608 milyar. Penjualan ekspor tidak berubah sebesar 1,1 juta ton.

“Market share Holcim di pasar nasional saat ini mencapai 16%, sedangkan di Jawa 22%. Kenaikan market share ini didukung adanya 44 distributor serta meningkatnya brand di pasar,”ungkapnya.

Membaiknya kinerja Holcim selama semester I/2007, diakui RUSLI, juga dipicu membaiknya harga jual semen setelah sempat turun pada 2006 dari Rp 600 ribu per ton jadi Rp 500 ribu per ton. Sedangkan harga ekspor pada periode yang sama naik lebih dari US$ 2 per ton.

“Perseroan mampu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 124 milyar pada semester I/2007. Meningkatnya harga listrik dan BBM, biaya distribusi dan produksi dapat dikontrol dengan baik,”pungkasnya. (tin)

Teks foto :
– RUSLI SETIAWAN
Foto : TITIN suarasurabaya.net

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
28o
Kurs