Pembangunan Rumah Sehat Sederhana (RSH) di Sidoarjo terhenti. Ini disebabkan beberapa kendala yang dihadapi pengembang yakni lahan sudah tidak ada lagi dan mahalnya pembebasan lahan.
SONY WIBISONO Wakil Ketua DPD REI Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Rabu (03/10), mengatakan, pengembang yang ingin membangun RSH sebenarnya cukup banyak. Bahkan antusiasnya cukup tinggi melihat banyaknya korban lumpur Lapindo yang kehilangan tempat tinggal.
“Begitu antusiasnya membebaskan lahan, ternyata lahan tersebut tidak masuk kriteria lahan untuk membangun rumah. Malahan untuk bebaskan lahan sendiri terkendala perijinan,”ujarnya.
Meskipun saat ini, Pemkab Sidoarjo melakukan perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) melalui konversi lahan pertanian, tapi kata SONY, tidak serta merta bisa dibangun perumahan. Masih perlu mekanisme melalui DPRD dan Perda.
Ini yang menyebabkan Bupati Sidoarjo tidak bisa mengeluarkan ijin lokasi semena-mena. Kalau Bupati mengagendakan perubahan tata ruang wilayah, sebenarnya 2 bulan lagi bisa terealisasi.
“Bupati seharusnya mengantisipasi dan peduli pada masyarakat. Jika aturannya terpatron seperti yang ada saat ini bagaimana pemerintah bisa menyediakan rumah pengganti bagi korban lumpur Lapindo,”tukas SONY.
Penjualan unit rumah secara umum di Sidoarjo, ungkap SONY, belum bisa diprediksi dengan pasti. Jika pengembang bisa menjual 100 unit saja itu sudah bagus. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

