Menjelang lebaran ini, pengusaha unggas kewalahan memenuhi permintaan pasar domestik dan Indonesia Timur. Hal ini diungkapkan PAUL ISKANDAR pengusaha telur Surabaya pada suarasurabaya.net, Selasa (25/09), terkait persiapan produk unggas memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang lebaran, permintaan pasar domestik dan Indonesia Timur terhadap telur dan daging ayam naik di kisaran 40%-50%. Tahun ini, lonjakan permintaan tidak akan jauh berbeda.
Setiap hari kapal-kapal yang berangkat ke wilayah Indonesia Timur, kata PAUL, mengangkut produk unggas cukup besar. Mereka tidak hanya membawa telur tapi juga unggas hidup.
“Setelah penuhi permintaan pasar yang tinggi, pada H-1 dan H+1 lebaran, harga produk unggas mencapai titik tertinggi. Walau harga tinggi, kenyataannya, konsumen dengan senang hati akan menerimanya. Ini dipicu stok mulai menipis setelah didistribusikan sebelumnya,”kata PAUL mantan Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Jawa Timur.
Jawa Timur sendiri, diakui PAUL, sampai saat ini menjadi pemasok utama produk unggas untuk Jakarta dan Jawa Barat. Imbasnya, peternak unggas kewalahan mememuhi permintaan pasar.
Kondisi tersebut berbalik dengan sebelum memasuki puasa. Seminggu sebelum dan sesudah puasa, baik peternak termasuk breeding farm dan pengusaha harus lapang dada.
Pasalnya, telur-telur tidak ditetaskan dan tidak membuat bibit. Selama puasa, pekerja di breeding farm diliburkan. Imbasnya, telur terpaksa dijual dengan mendekati harga pokok.
“Saat ini harga telur sudah turun di kisaran Rp 8000-Rp 8.500/kg. Bahkan di tingkat pengecer, ada yang dibawah Rp 8000. Yang jelas, ini masa harga ‘jelek’. Dan bagi pengusaha tidak perlu mengeluh karena memang ini sudah biasa,”tukasnya. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

