Jumat, 20 Maret 2026

Dokter Ignatius Supit Pendiri RS Gotong Royong Surabaya Tutup Usia

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
dr. Ignatius Supit, Sp. A, pendiri Rumah Sakit Gotong Royong saat berkunjung ke Keuskupan Surabaya pada tahun 2017. Foto: Youtube Romo Didik

dr. Ignatius Supit, Sp. A, pendiri Rumah Sakit Gotong Royong, Kota Surabaya meninggal dunia di rumahnya pada Kamis (19/3/2026) pukul 18.50 WIB.

Mgr Agustinus Tri Budi Utomo Uskup Surabaya menyampaikan kabar duka ini kepada khalayak melalui unggahan akun Instagramnya.

“dr. Ignatius Supit, legenda besar dokternya orang kecil dan tukang becak serta pemulung di Surabaya. Dokter idealis dan dermawan yang menjadi inpirasi bagi banyak orang. Hari ini dia telah memenangkan pertandingan dalam menaburkan kebaikan dan kemanusiaan sampai titik akhir hidup…. Selamat Jalan Dok, Tuhan Yesus pasti tersenyum bangga atas hidupmu,” tulis Romo Didik, panggilan Mgr Agustinus Tri Budi Utomo.

Dokter Ignatius Supit adalah tokoh di balik berdirinya RS Gotong Royong, Poliklinik Tolong Menolong, Universitas Katolik Darma Cendika, SMA Santo Hendrikus dan Fakultas Kedokteran Widya Mandala Surabaya.

Romo Didik saat dihubungi suarasurabaya.net, Jumat (20/3/2026) menceritakan, keinginan dokter Supit mendirikan poliklinik untuk orang miskin, muncul saat dia mengantarkan putranya mendaftar studi ke kedokteran gigi pada tahun 1970-an. Di sana ia melihat betapa pentingnya perawatan rumah sakit dan dokter yang peduli dengan orang miskin.

Pada tahun 1979, dokter Supit mendirikan klinik umum dan klinik rehidrasi anak di Manyar, Surabaya. Klinik itu pindah ke Medokan Semampir Indah pada tahun 1990 dan resmi menjadi Poliklinik Gigi dan Umum pada 12 November 1991.

Sekitar lima tahun kemudian, pada 1 Januari 1996, Rumah Sakit Gotong Royong mulai beroperasi dengan layanan rawat inap dan kapasitas 50 tempat tidur.

Bangunan RS Gotong Royong masih sederhana, tapi dokter Supit merancang sendiri gedungnya. Meski kamar kelas ekonomi, ada tempat khusus untuk penunggu, ada sekat sendiri untuk keluarga bisa menunggui seperti kamar VIP.

Saat itu, dokter Supit berperan sebagai dokter, direktur, keuangan, pemilik, sampai ketua yayasan. Ia mengajak dokter-dokter lain untuk berkarya sosial, tidak dibayar. “Pasien dengan kasus ringan, sembuh dalam tiga hari. Kalau lebih, harganya diturunkan. Lebih dari seminggu belum sembuh, digratiskan,” kata Romo Didik.

dr. Ignatius Supit, Sp. A, pendiri Rumah Sakit Gotong Royong saat berkunjung ke Keuskupan Surabaya pada tahun 2017. Foto: Dokumentasi Mgr Agustinus Tri Budi Utomo

Pada tahun 2014 dokter Supit datang ke Keuskupan Surabaya, menyerahkan Rumah Sakit Gotong Royong untuk dikembangkan menjadi rumah sakit pendidikan, tempat praktik calon dokter. “Dia memutuskan di usia pensiun tidak mewariskan rumah sakit ke anak-anaknya, karena anak-anaknya sudah menjadi dokter semua,” kata Romo Didik

Keputusan almarhum saat itu bukan tanpa sebab. Dokter Supit berpandangan, Rumah Sakit Gotong Royong mempunyai misi untuk orang miskin, sehingga sebaiknya dikelola gereja.

“Hanya gereja yang bisa men-support supaya rumah sakit bisa tetap melayani orang miskin,” kata Romo Didik mengutip perkataan dokter Supit.

“Dokter Ignatius Supit mempunyai prinsip, kalau untuk orang miskin rumah sakit ini tidak akan mati. Tuhan yang memenuhi”.

Setelah diserahkan kepada Keuskupan Surabaya, pada tahun 2017 keuskupan bekerja sama dengan Universitas Widya Mandala dan beberapa paroki untuk menambah bangunan untuk ruang laboratorium, Unit Gawat Darurat, Intensive Care Unit dan geriatri.

“Lansia yang keluarganya tidak bisa merawat karena bekerja misalnya, bisa dititipkan ke geriatri. Seperti panti werdha dengan biaya terjangkau. Ada pemantauan perawat secara rutin,” ujar Bapak Uskup Surabaya ini.

Pada tahun 2005, fasilitas rumah sakit yang terletak di Jalan Medokan Semampir Indah Nomor 97, Surabaya ini ditingkatkan menjadi bangunan empat lantai. Rumah sakit ini kini menjadi Rumah Sakit Umum Tipe C dan terakreditasi Paripurna. Kemudian sejak 2021, RS Gotong Royong resmi menjadi rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Sampai hari ini, nilai-nilai idealis kemanusiaan yang diperjuangkan dokter Ignatius Supit selalu hidup melalui pelayanan kesehatan di RS Gotong Royong. “Rumah sakit sampai sekarang defisit. BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, red) hanya menanggung perawatan sampai titik tertentu. Saat pasien tidak bisa dirujuk atau rumah sakit rujukan tidak menerima. Biaya di luar BPJS, dibantu yayasan,” kata Romo Didik.

Bahkan sampai dokter Ignatius Supit tutup usia, pihak keluarga mengumumkan dana kedukaan yang terkumpul akan digunakan sebagai subsidi biaya pasien di RS Gotong Royong.(iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Jumat, 20 Maret 2026
27o
Kurs