Senin, 27 April 2026

IHSG Dibuka Menguat 29,02 Poin Namun Pasar Masih Bergerak Hati-hati

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta pada Rabu (26/4/2023). Foto: Antara

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 29,02 poin atau 0,41 persen ke posisi 7.158,51 di pembukaan perdagangan Senin (27/4/2026).

Brigita Kinari analis ekuitas menilai pergerakan IHSG akan bergerak campuran dalam jangka pendek, tetapi memiliki kecenderungan melemah.

Sentimen pasar global terhadap aksi risk-off masih memicu tekanan serta nilai tukar rupiah yang melemah.

Setelah IHSG ditutup pada level 7.129 pada Jumat (24/4/2026) lalu, posisi harga saham saat ini menjadi oversold. Penurunan pekan lalu juga menjadi penutup celah harga di level 7.308-7.346.

Indeks berpeluang untuk rebound dalam waktu dekat meski kenaikannya diprediksi tidak terlalu tinggi.

“Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917,” ungkap Brigita.

Dilansir dari Antara, Amerika Serikat (AS) dan Iran yang hingga saat ini belum menemui kesepakatan negosiasi turut memicu gangguan stabilitas pasar energi.

Pelaku pasar global mulai was-was akan pengetatan pasokan energi global yang berimbas pada harga energi jika tidak ada deeskalasi konflik geopolitik. Hal tersebut berisiko pada kenaikan inflasi global dan pengetatan kebijakan moneter jangka pendek.

Brigita juga menyatakan ekspektasi pasar akan arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) bergeser menjadi agresif. Harga energi yang masih di level tinggi menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi sulit turun.

Sehingga jika dilihat secara menyeluruh, investor didorong untuk melakukan sikap risk-off dengan potensi peralihan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi.

Pada sisi dalam negeri, dua faktor utama yang memengaruhi pasar adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh titik terlemah di Rp17.315 per dolar AS.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi sejak 18 April dipicu oleh harga energi global yang terus melambung serta upaya dalam menjaga kredibilitas fiskal.

Pelaku pasar khawatir terhadap efek beruntun inflasi terutama pada sektor transportasi dan logistik, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat serta margin sektor berbasis konsumsi.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) didorong untuk memperkuat bauran kebijakan stabilisasi sebagai respons tekanan terhadap rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

“Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko imported inflation dan memperbesar potensi capital outflow, khususnya dari pasar obligasi,” ucap Brigita.

Sikap otoritas yang defensif terhadap stabilitas makroekonomi tercerminkan dari langkah penyesuaian harga energi dan kebijakan moneter yang cenderung ketat.

Meski begitu, pasar diperkirakan masih bergerak hati-hati dalam jangka pendek, dengan meningkatkan sensitivitas terhadap risiko inflasi dan stabilitas eksternal.

“Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik serta keberlanjutan aliran dana asing,” tuturnya. (ant/vve/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Senin, 27 April 2026
30o
Kurs