Nilai tukar rupiah kembali tertekan menjadi Rp17.405 per dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5/2026) pagi, yang dipicu ketegangan konflik di Timur Tengah.
Rupiah melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS.
“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ucap Lukman Leong Analis mata uang Doo Financial Futures di Jakarta pada Selasa (5/5/2026).
Melansir Antara, ketegangan ini terjadi karena Uni Emirat Arab (UEA) diserang oleh Iran. Emirat Fujairah, Layanan pers pemerintah, melaporkan terjadi kebakaran di salah satu zona minyak setelah serangan drone yang memicu kekhawatiran eskalasi regional, sebagaimana dilaporkan Sputnik.
Namun, hal itu dibantah oleh pihak Iran. Pihaknya menyatakan jika tidak pernah dan juga saat ini pun tidak memiliki rencana untuk menyerang UEA, demikian ungkap sumber militer senior Iran.
Di samping itu, AS disebut menenggelamkan beberapa kapal Iran seiring Presiden AS Donald Trump mengumumkan Project Freedom. Proyek tersebut merupakan sebuah operasi untuk membantu kapal-kapal yang terhambat di Selat Hormuz dan ingin meninggalkan kawasan itu.
CENTCOM menyatakan dukungan militer untuk operasi itu mencakup kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta 15.000 personel militer.
Operasi itu telah dimulai pada Senin (4/5/2026) kemarin.
Sementara itu, IRIB salah satu media Iran melaporkan, militer Iran mencegah kapal-kapal AS melintas di jalur air itu dengan menembakkan dua rudal ke arah satu kapal perang AS.
“Pelemahan diperkirakan akan terbatas, dengan investor menantikan data PDB Q1 (Produk Domestik Bruto Kuartal I-2026) Indonesia yang akan dirilis siang ini,” kata dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.350-Rp17.450 per dolar AS.(ant/mar/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

