Sistem penempatan jemaah haji Indonesia di tenda Arafah pada musim haji 2026 akan diatur agar lebih tertib dan terstruktur.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memastikan skema baru ini diterapkan untuk menghindari penumpukan, menjaga kenyamanan jemaah, serta memastikan seluruh jamaah mendapatkan hak tempat yang layak saat puncak ibadah haji.
Langkah penataan tersebut dilakukan melalui pengecekan langsung kesiapan tenda di kawasan Arafah yang dikelola Syarikah Al Bait Guest (Dhuyuf Al-Bait). Area ini direncanakan menampung sekitar 103 ribu jemaah haji Indonesia pada fase wukuf.
Ian Heryawan Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj mengatakan, pengaturan penempatan jemaah menjadi salah satu fokus utama dalam persiapan layanan di Arafah.
“Kami sudah mengecek beberapa tenda, kamar mandi, dan beberapa tempat lainnya,” kata Ian.
Menurut Ian, setiap tenda memiliki kapasitas sekitar 300 meter persegi dengan daya tampung kurang lebih 238 tempat tidur. Namun, pengisian tenda tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui sistem pendataan yang lebih rinci.
“Di setiap tenda nanti akan ada daftar kapasitas jemaah, dan itu akan disandingkan dengan jumlah jemaah yang masuk,” ujarnya.
Dalam sistem baru ini, penempatan jemaah tidak selalu berdasarkan satu kloter penuh dalam satu tenda. Pengaturan dilakukan dengan kombinasi beberapa kloter, namun tetap memperhatikan kedekatan antarjemaah agar tidak terpisah terlalu jauh, terutama bagi jemaah lanjut usia.
“Bisa campuran, karena jumlah dalam satu kloter ada yang 360 hingga 390 jemaah, sedangkan kapasitas tenda bervariasi. Namun yang pasti pemisahan kloter itu tidak berjauhan, apalagi untuk jemaah lansia agar tidak terlalu jauh,” jelas Ian.
Kemenhaj menegaskan bahwa sistem ini dirancang untuk memastikan tidak ada jemaah yang terabaikan saat memasuki fase puncak ibadah haji di Arafah. Setiap tenda akan dilengkapi informasi kapasitas, daftar kloter, serta nama-nama jemaah guna memudahkan proses distribusi.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pengawasan ketat untuk memastikan kesesuaian antara data dan kondisi di lapangan. Evaluasi berkala akan dilakukan menjelang hari pelaksanaan wukuf.
“Jangan sampai kita diarahkan ke tempat yang bagus-bagus, nanti aslinya nggak. Kita akan pastikan bersama tim dari Kantor Urusan Haji (KUH), daker, seluruh petugas,” tegas Ian.
Kemenhaj juga memberikan perhatian khusus kepada jemaah lansia dan penyandang disabilitas. Fasilitas tenda, termasuk kamar mandi dan toilet, disesuaikan agar lebih mudah diakses dan nyaman digunakan.
Di sisi lain, ketersediaan air di sejumlah titik tenda juga masih dalam tahap penyempurnaan. Meski sudah berfungsi di beberapa lokasi, distribusinya belum merata dan masih terus diperbaiki. (saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

