Kementerian Keuangan menegaskan menjaga nilai tukar rupiah adalah yuridiksi atau kewenangan dari Bank Indonesia. Padahal nilai tukar rupiah nyaris di angka Rp18.000 rupiah pada penutupan pasar Rabu (3/6/2026).
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan mengatakan, koordinasi dan rapat terkait rupiah di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berjalan normal saat ini.
“Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja,” kata Purbaya di kompleks DPR RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Ia mengatakan, pertemuan KSSK bisa dipercepat atau ditingkatkan intensitasnya, di saat Bank Indonesia meminta hal tersebut.
“Tapi kalau ada, kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan, sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Tapi kan sekarang itu masih dalam yurisdiksi Bank Sentral kita. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat,” ujarnya.
Meski setiap bulan koordinasi KSSK dijalankan oleh pejabat eselon 1 Kementerian atau Lembaga terkait, Purbaya tetap yakin BI mampu meningkatkan kurs rupiah ke depan.
“Setiap bulan kita ada rapat deputi kan, setiap bulan mereka diskusi terus, ngasih masukan ke kita. Tapi kan kalau masalah nilai tukar, Bank Sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke Bank Sentral,” ucapnya.
Purbaya melihat perlemahan nilai tukar rupiah disebabkan banyak isu-isu yang beredar di pasar saham. Ia menegaskan kondisi fiskal aman dan isu-isu yang beredar di media sosial atau pasar saham tidaklah benar dan hanya menimbulkan sentimen negatif.
“Kalau kita lihat kan tiba-tiba aja penguatannya, pelemahannya 1-2 hari ini kan. Karena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif,” ungkapnya.
Menkeu juga mengeklaim telah menjalankan tugasnya untuk menjaga kondisi fiskal dan fondasi ekonomi.
“Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Jadi untuk saya fokusnya di situ,” imbuhnya.
Purbaya juga membantah kondisi fiskal jeblok dan membuat nilai tukar rupiah melemah.
“Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti kita ketemu kapan? Minggu depannya? Ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik kan dibanding bulan April,” ujarnya.
Purbaya menegaskan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tercatat di level 0,7 persen pada lima bulan pertama (Januari–Mei) 2026. Ini menunjukkan kondisi keuangan negara masih sangat aman.
“Tapi nggak apa-apa. Kita akan hitung Kita selalu hitung berdasarkan prediksi ekonomi dan prediksi yang benar, Bukan hanya sekian persekian kali sekian. di bulan Mei juga surplusnya, primary surplusnya positif lagi. Lebih tinggi dibanding bulan April Dan pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22 persen lebih,” katanya.
Amannya kondisi keuangan negara didorong peningkatan pendapatan pajak yang diklaim signifikan. Ia juga tegas menyatakan, pemerintah bijak dalam menggunakan anggaran negara.
“Jadi kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, tidak begitu. Kita makin bagus. Nanti saya kasih tahu di APBN Kita. Saya kasih lihat gambar satu persatu seperti apa,” pungkasnya.
Pada penutupan pasar Rabu (3/6/2026), nilai tukar Rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per Dollar AS
Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang menilai pelemahan yang mendekati angka psikologis Rp18.000 itu dipicu oleh kombinasi sentimen dari faktor global maupun domestik.
Dari sisi eksternal, perhatian investor masih tertuju pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan kian memanas setelah Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.
“Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim di Jakarta, seperti dilaporkan Antara, Rabu (3/6/2026).
Laporan media Iran yang menyebutkan tidak adanya komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir turut memunculkan spekulasi bahwa perundingan tengah mengalami kebuntuan.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran atas inflasi global sekaligus memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Data yang dirilis pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS meningkat secara tak terduga pada April 2026, yang semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap bersikap ketat dalam kebijakan moneternya.(lea/kir/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

