Sabtu, 13 Juni 2026

ITS Cari Formula Terbaik untuk Mengenang Prof Johan Silas, Ini Rencananya

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Prof. Bambang Pramujati Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) saat berada di Plasa dr. Angka, Komplek Kampus ITS, Surabaya, pada Sabtu (13/6/2026).

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berupaya mencari cara untuk mengabadikan nama sekaligus meneruskan warisan pemikiran Prof Johan Silas, tokoh arsitektur yang dikenal atas kontribusinya bagi pengembangan kampung dan tata kota yang humanis.

Prof. Bambang Pramujati Rektor ITS mengatakan, hingga saat ini kampus belum memiliki rencana spesifik seperti penamaan gedung menggunakan nama Prof. Johan Silas. Meski begitu, ITS membuka peluang untuk menghadirkan bentuk penghormatan lain agar mendiang tetap dikenang.

Bambang menjelaskan, ITS selama ini memang telah menggunakan nama sejumlah tokoh untuk beberapa gedung di lingkungan kampus. Oleh karena itu, pihaknya akan mempertimbangkan alternatif terbaik untuk mengabadikan nama Prof. Johan Silas.

“Insyaallah kami akan mencoba mencari alternatif kira-kira apa yang bisa kita lakukan dengan Prof. Johan Silas, agar namanya selalu dikenang di ITS ini dan jadi pengingat bagi kami semua bahwa kita memiliki sosok yang luar biasa terkenal, tapi luar biasa sederhana dan humble,” katanya, pada Sabtu (13/6/2026).

Selain itu, ITS juga membuka kemungkinan menyediakan ruang khusus untuk menyimpan karya dan koleksi buku Prof. Johan Silas. Gagasan tersebut muncul setelah keluarga menyampaikan bahwa masih banyak buku serta karya beliau yang tersimpan di kediamannya.

Menurut Bambang, salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah menghadirkan “Pojok Johan Silas” di perpustakaan ITS atau ruang diskusi khusus yang dapat menjadi tempat belajar mengenai arsitektur kampung dan pengembangan kota.

“Apakah nanti tetap di rumah beliau kemudian rumah beliau dijadikan tempat diskusi, atau dibawa ke perpustakaan lalu ada Pojok Johan Silas dan sebagainya, ini masih akan kami diskusikan bersama keluarga,” ujarnya.

Bambang menegaskan, warisan pemikiran Prof. Johan Silas sangat besar dan relevan untuk terus dilanjutkan. Kiprah mendiang, menurutnya, tak bisa dilepaskan dari perkembangan arsitektur Surabaya hingga berbagai proyek besar nasional.

Ia menilai pendekatan Prof. Johan Silas yang humanis dalam penataan kampung menjadi pembelajaran penting bagi generasi penerus. Oleh karena itu, ITS menilai warisan pemikiran beliau layak untuk terus dijaga dan diwariskan.

Sebelumnya, ITS juga menggelar penghormatan terakhir bagi mendiang Prof. Johan Silas di Plasa dr. Angka, Komplek Kampus ITS, Surabaya, pada Sabtu (13/6/2026).

“Kita mengadakan upacara pelepasan pemakaman salah satu putra terbaik ITS, Prof. Johan Silas. Salah satu tokoh arsitektur ternama yang sudah dikenal, baik nasional maupun internasional,” katanya.

Menurutnya, ITS tidak hanya kehilangan seorang guru besar, tetapi juga sosok teladan yang dikenal sebagai arsitek humanis.

Bambang meyakini warisan pemikiran hingga keteladanan Prof. Johan Silas akan terus hidup di lingkungan perguruan tinggi.

“Kita kehilangan guru besar, tapi sesungguhnya kita tidak kehilangan Profesor Johan Silas karena seluruh teladan, karya beliau, contoh beliau, akan selalu berada di hati kita di ITS,” pungkasnya. (ris/saf/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Surabaya
Sabtu, 13 Juni 2026
29o
Kurs