Tripitono Adi Prabowo dosen Fakultas Ekonomi Pembangunan Universitas Trunojoyo Madura memprediksi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau kopdes akan sulit bersaing dengan swalayan dan toko kelontong yang lebih dulu beroperasi di tengah masyarakat. Pembentukan koperasi secara top-down serta belum munculnya kebutuhan bersama di antara anggota dinilai menjadi tantangan utama program tersebut.
Tripitono yang juga Anggota Asosiasi Perencanaan Pembangunan Pemerintah Indonesia dari Bappenas ini mengatakan koperasi seharusnya tumbuh dari kebutuhan nyata anggotanya. Menurutnya, kebutuhan dan kepentingan bersama itulah yang menjadi “roh” agar koperasi dapat bertahan dan berkembang.
Namun, kopdes saat ini dibentuk melalui arahan pemerintah, kemudian pengurus dipilih dan diberi modal untuk langsung menjalankan kegiatan usaha. Kondisi tersebut membuat keterikatan masyarakat sebagai anggota koperasi belum terbangun dengan kuat.
“Masalahnya, roh koperasi tersebut belum terbentuk. Apabila suatu saat dukungan pemerintah dihentikan, saya menduga akan muncul banyak persoalan internal,” kata Tripitono dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya pada Selasa (14/7/2026).
Ia menilai persoalan internal tersebut berpotensi membuat kopdes kesulitan menghadapi persaingan usaha di desa. “Alih-alih mampu bersaing dengan swalayan, toko kelontong, atau toko Madura di sekitarnya, koperasi justru berpotensi menghadapi masalah dalam pengelolaannya sendiri,” ujarnya.

NOW ON AIR SSFM 100

