Investasi baru untuk barang modal sampai saat ini belum ada. Termasuk rendahnya investasi baru untuk permesinan. Dampaknya, industri permesinan dan logam mengalami stagnasi.
A SAFIUN Ketua Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Jumat (21/09), mengatakan rencana revitalisasi mesin, baik untuk industri TPT (tekstil dan produk tekstil) maupun pabrik gula belum berjalan.
Sebagian besar, konsumen produk mesin dan logam dalam negeri, merupakan industri skala kecil maupun menengah yang bergerak di TPT dan pertanian-perkebunan. Industri besar lebih mengutamakan memakai mesin impor daripada lokal.
SAFIUN berharap pemerintah segera melaksanakan rencananya untuk melakukan revitalisasi maupun restrukturisasi permesinan. Beberapa kebijakan pendukung industri mesin lokal, yakni revitalisasi mesin bagi industri TPT dan restrukturisasi pabrik gula.
Meski industri dalam negeri kurang optimal menyerap produk mesin dan logam lokal, tegas SAFIUN, industri ini masih memiliki pangsa ekspor. Meski jumlahnya hanya 10%.
SAFIUN mencontohkan, ekspor alat boiler pada 2006 mencapai US$41,8 juta, sedangkan tahun ini diprediksi mampu mencapai US$61,2 juta. “Sebagian besar permesinan lokal, khususnya alat boiler dari Indonesia diminati di pasar Asia Tenggara dan Afrika. Pasalnya, harga yang ditawarkan jauh lebih murah,”pungkasnya. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

