Modus pencucian uang hasil kejahatan melalui pembelian properti dan barang-barang mewah marak dilakukan di Indonesia. Ini dipicu system anti pencucian uang yang berlaku sekarang belum menjangkau pihak professional serta penyedia barang dan jasa yang dimanfaatkan sebagai media pencucian uang.
Demikian ungkap SUSNO DUADJI Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) Bidang Hukum dan Kerjasama Antar Lembaga dalam “Diskusi Publik Membangun Rezim Anti Pencucian Uang Yang Efektif di Indonesia” yang digelar Fakultas Hukum Universitas Surabaya di Hyatt Regency, Selasa (11/09).
SUSNO menjelaskan pelaku kejahatan memang berupaya menyembunyikan sejauh mungkin sumbernya agar tidak mudah terlacak oleh aparat penegak hokum negara. Untuk itu, cara efektif untuk pengungkapan kejahatan dan hasilnya melalui pendekatan follow the money.
“Pendekatan ini berusaha melacak harta kekayaan yang diduga dari tindak pidana, kemudian merekonstruksi asal harta kekayaan itu, sehingga menemukan tindak pidana apa yang menghasilkan harta kekayaan itu,”ujarnya.
Pendekatan follow the money, kata SUSNO, lebih mudah dibandingkan dengan pendekatan konvensional. Pendekatan konvensional mengejar pelaku tindak pidana melalui perbuatan dan pertanggungjawabannya, karena hasil tindak pidana adalah mata rantai paling lemah dari tindak pidana.
Dengan mengambil alih hasil tindak pidana, ungkap SUSNO, berarti menyedot life-blood of the crime. Ini juga menghilangkan motivasi orang melakukan kejahatan dengan motif ekonomi. Tapi pendekatan ini harus dilakukan dari hulu ke hilir.
Proses pencucian uang, tambah SUSNO, dikelompokkan menjadi tiga kegiatan yakni placement seperti penyelundupan uang tunai dari suatu negara ke negara lain atau menggabungkan antara uang tunai yang berasal dari kejahatan dengan uang yang diperoleh dari hasil kegiatan yang sah; layering diantaranya dengan pembukaan sebanyak mungkin ke rekening-rekening perusahaan fiktif dengan memanfaatkan ketentuan rahasia bank dan integration dimana uang yang dicuci melalui placement dan layering dialihkan dalam kegiatan resmi. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

