Rabu, 25 Mei 2022

Khofifah Dorong Perempuan Indonesia Merajai Ekonomi Kreatif

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur saat di Gedung Grahadi, Surabaya, Jumat (14/2/2020). Foto: Humas Pemprov Jatim

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Perempuan Pertama di Jawa Timur mendorong agar perempuan termotivasi untuk terus maju dan memberikan kontribusi bagi bangsa dan negaranya di Hari Perempuan Internasional atau International Woman’s Day, Minggu (8/3/2020). Dia bilang, saat ini perempuan sudah mendominasi di bidang ekonomi kreatif.

“Tenaga kerja perempuan Indonesia tercatat terus mendominasi di bidang ekonomi kreatif. Sejak tahun 2011 hingga 2016, proporsi tenaga kerja perempuan terus mendominasi dibandingkan tenaga kerja laki-laki di bidang industri ekonomi kreatif,” kata Khofifah dalam keterangan tertulis, Minggu (8/3/2020).

Mengutip data Unesco, Khofifah menyatakan bahwa di era industri 4.0 ini peran dan kontribusi perempuan di dunia ekonomi kreatif global terus meningkat. Pada 2011 lalu kontribusi perempuan di dunia ekonomi kreatif mencapai Rp581,54 trilliun. 2017 lalu, kontribusi perempuan di dunia ekonomi kreatif Indonesia mencapai Rp1000 trilliun.

Hal itu, kata Khofifah, menunjukkan bahwa perempuan merajai bidang ekonomi kreatif di Indonesia. Begitu juga partisipasi perempuan di bidang Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Teknik) and Mathematics (Matematika) atau yang dikenal dengan STEM. Data Unesco menyebutkan partisipasi perempuan dari berbagai universitas di Indonesia di bidang STEM sudah cukup tinggi.

Untuk bidang Matematika, misalnya, partisipasi perempuan di universitas mencapai 57,7 persen. Kemudian untuk bidang Kimia mencapai 66,8 persen, lalu untuk Kedokteran mencapai 73 persen. Sementara untuk bidang Biologi partisipasi perempuan di dunia kampus mencapai 80,7 persen, dan bidang Farmasi mencapai 88 persen.

“Ciri-ciri dari negara maju di antaranya dilihat dari partisipasi masyarakat di bidang STEM. Jika partisipasi perempuan di bidang STEM tinggi maka negara itu bisa dikatakan semakin maju,” kata Khofifah.

Meski demikian, Khofifah menyampaikan, walaupun partisipasi perempuan yang mengambil jurusan STEM di bangku kuliah sangat tinggi, pada praktiknya, partisipasi itu menurun drastis saat masuk ke dunia profesional. Data Unesco yang dia kutip menyebutkan, hanya dua dari sepuluh perempuan memilih berkarir secara profesional di industri STEM. Lalu hanya tiga dari sepuluh perempuan menjadi peneliti di dunia STEM.

Sebabnya, 61 persen perempuan masih memikirkan stereotipe gender saat mencari kerja. Kemudian sebanyak 50 persen perempuan tidak tertarik berkarir di bidang STEM karena kuatnya sentimen dominasi laki-laki. Dan sebanyak 45 perempuan percaya bahwa STEM tidak sesuai untuk perempuan.

“Sedangkan pendorong perempuan mengejar karir di bidang STEM ada beberapa faktor. Di antaranya dukungan orang tua, adanya beasiswa, adanya role model di bidang STEM dan juga adanya dukungan dari institusi dan sekolah,” kata Khofifah.

Sebab itulah di era yang kian maju ini, Khofifah mendorong perempuan terus berkontribusi untuk negeri. Terlebih di era yang serba teknologi, perempuan tak lagi dibatasi stigma bekerja harus meninggalkan kewajibannya sebagai istri maupun ibu rumah tangga. Bekerja bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

“Perempuan harus terus berpikiran maju dan bergerak maju. Perempuan tetap bisa menjaga harkat dan martabatnya tapi di sisi lain juga tetap bisa memberikan dedikasi dan kontribusi di bidang yang mereka gemari. Selamat Hari Perempuan Internasional,” kata Khofifah.(den)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 25 Mei 2022
30o
Kurs