Senin, 6 Februari 2023

CORE Memprediksi Tekanan Global Tahun 2023 Tidak Berdampak Signifikan pada Ekonomi Indonesia

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian menyampaikan, tahun depan menjadi pertaruhan Indonesia untuk bangkit sesudah dua tahun bertahan di masa pandemi Covid-19.

Berbekal stabilitas ekonomi dan politik, Airlangga optimistis pertumbuhan Indonesia bisa melesat lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN.

“Tentu tahun depan adalah pertaruhan Indonesia. kalau bisa menangani tantangan yang ada di tahun depan, maka Indonesia bisa lepas landas berikutnya. Karena dua tahun belakangan kita bisa bertahan. Tinggal tahun depan lagi kita harus bisa bertahan, dan pada saat itu tidak banyak negara yang bisa take off seperti Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Jumat (9/12/2022).

Momentum keberhasilan Indonesia sebagai Presidensi G20, lanjutnya, mampu memberikan dampak bagi keberlanjutan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang pada kuartal ketiga berhasil menembus angka 5,72 persen (year on year/yoy).

Mohammad Faisal Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 di angka 4,5-5 persen.

Walau ada tekanan global, ekonomi Indonesia masih cenderung bertahan dibanding negara lain.

“Artinya, Indonesia relatif masih kuat dibandingkan negara-negara lain yang mengalami perlambatan pertumbuhan,” jelasnya.

Faisal menambahkan, pertumbuhan ekonomi tahun depan kemungkinan menurun dibanding tahun ini. Tapi, Indonesia masih resilien dan kecil peluangnya mengalami resesi.

“Indonesia relatif lebih bisa resilien, karena masih relatif kuat pertumbuhan ekonominya di kisaran 4,5-5 persen,” tambahnya.

Hal itu karena perekonomian Indonesia disokong ekonomi domestik, di mana konsumsi dalam negeri masih bagus. Sehingga, tekanan global tidak banyak mereduksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Memang ada juga yang terpengaruh oleh ekonomi global. Berpengaruhnya lewat perdagangan, lewat investasi, dan lain-lainnya,” timpalnya.

Ketergantungan Indonesia terhadap perekonomian global, kata Faisal, tidak sebesar negara-negara lain. Sehingga, dampak perlambatan ekonomi global lebih besar di negara-negara lain yang punya pasar lebih kecil dan terintegrasi dengan ekonomi global lebih besar lewat perdagangan.

“Indonesia itu pasar dalam negerinya besar dan integrasi ke globalnya itu tidak sebesar negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, apalagi Singapura. Makanya, daya tekannya serta perlambatanya tidak sebesar mereka,” tegas Faisal.

Sementara itu, Lukman Leong Analisis DCFX menyarankan Pemerintah menjaga cadangan devisa karena tahun depan mata uang Dollar Amerika Serikat (USD) akan menjadi safe haven jika terjadi perlambatan ekonomi.

“Cadangan devisa sangat penting, begitu juga dengan investasi asing. Dana asing akan mengalir lewat investasi di sektor pertambangan, dan yang terkait dengan kendaraan listrik atau Electric Vehicle,” katanya, Jumat (9/12/2022).

Langkah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), menempatkan suku bunga mereka paling menarik di antara semua suku bunga. USD diperkirakan akan memberikan imbal hasil terbaik tahun depan.

Selain menjaga cadangan devisa, untuk menopang perekonomian Indonesia ke depan, Lukman bilang yang juga penting adalah stabilitas harga komoditas supaya daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Tidak bisa dipungkiri, perekonomian kita ditopang ekonomi domestik. Makanya, akan semakin kuat kalau barang tersedia dan daya beli terjaga,” pungkasnya.(rid)

Berita Terkait