Jumat, 3 Februari 2023

Harga Minyak Anjlok Terseret Kekhawatiran Resesi dan Penguatan Dolar

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Harga Minyak Anjlok. Foto: Antara

Harga minyak tergelincir sekitar lima persen ke level terendah pada Sabtu pagi, karena dolar Amerika Serikat (AS) mencapai posisi terkuatnya dalam lebih dari dua dekad serta meningkatnya kekhawatiran bahwa pengetatan bank sentral yang agresif dapat menyebabkan resesi dan merugikan permintaan energi.

Seperti dilansir Antara, Sabtu (24/9/2022), minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November merosot 4,75 dolar AS atau 5,7 persen, menjadi menetap di 78,74 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Untuk minggu ini, harga acuan minyak mentah AS anjlok 7,1 persen.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November kehilangan 4,31 dolar atau 4,8 persen, menjadi ditutup di 86,15 dolar per barel di London ICE Futures Exchange. Untuk minggu ini harga acuan minyak global ini anjlok 5,7 persen.

Harga minyak secara teknis berada di wilayah oversold, dengan WTI di jalur untuk penyelesaian terendah sejak 10 Januari dan Brent untuk terendah sejak 14 Januari.

Bensin dan solar AS juga turun lebih dari lima persen.

Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada Rabu (21/9/2022). Bank-bank sentral di seluruh dunia mengikuti dengan kenaikan mereka sendiri, meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

“Minyak jatuh karena kekhawatiran pertumbuhan global, mengingat komitmen bank-bank sentral untuk memerangi inflasi. Tampaknya bank-bank sentral siap untuk tetap agresif dengan kenaikan suku bunga dan itu akan melemahkan aktivitas ekonomi dan prospek permintaan minyak mentah jangka pendek,” kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA.

Dolar AS berada di jalur untuk penutupan tertinggi terhadap sekeranjang mata uang lainnya sejak Mei 2002. Dolar yang kuat mengurangi permintaan minyak karena membuat bahan bakar lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Survei menunjukkan, penurunan zona euro dalam aktivitas bisnis semakin dalam pada September, yang mengindikasikan resesi membayangi karena konsumen mengendalikan pengeluaran dan karena pemerintah mendesak konservasi energi menyusul langkah Rusia untuk memotong pasokan ke Eropa.

Di sisi penawaran, upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 telah terhenti karena Teheran bersikeras pada penutupan penyelidikan pengawas nuklir PBB, kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, meredakan ekspektasi kebangkitan kembali ekspor minyak mentah Iran. (ant/des/ipg)

Berita Terkait