Menurutnya, Pemerintah perlu menghitung ulang kebutuhan impor minyak, biaya pengadaan energi, beban subsidi dan kompensasi energi, serta kondisi keuangan negara.
Ia menyampaikan prinsip kehati-hatian sehingga hal-hal itu perlu dilakukan.
“Intinya, kita terbuka terhadap bantuan dan kerja sama dari negara sahabat, tetapi kepentingan Indonesia harus menjadi prioritas. Pastikan tidak ada konsekuensi yang merugikan,” katanya.
Sebelumnya, Djoko Siswanto Kepala SKK Migas pada Selasa (27/10) mengatakan UEA akan mengirimkan 30 juta barel minyak mentah untuk Indonesia tanpa biaya.
Namun, Bahlil Lahadalia Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu (28/10) mengklarifikasi bahwa Indonesia tengah menjajaki rencana impor minyak mentah dari UEA.
“Itu masih potensi, ya. Itu penjajakan. Semuanya masih penjajakan, ya,” kata Bahlil.(ant/fia/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

