Hal tersebut menurutnya, membuat pelaku pasar khawatir terkait rangkaian data inflasi AS yang dimulai dari inflasi produsen akan terus mengalami kenaikan akibat perang yang berkepanjangan karena harga energi mengalami kenaikan.
“Sehingga, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan (16 September 2026),” ujar Nico.
Sedangkan dari dalam negeri, Nico menyebut pelaku pasar mengalihkan fokus ke hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI), yang mana indeks Penjualan Riil (IPR) Juli tumbuh 1,1 persen (yoy), atau meningkat dibandingkan Juni 2026 yang mengalami kontraksi sebesar 3,0 persen (yoy).
“Pencapaian itu memberikan gambaran akan permintaan konsumen yang terjaga,” ucapnya.
Kemudian, pelaku pasar juga fokus memperhatikan beban APBN yang akan meningkat, seiring kenaikan harga minyak dunia sehingga meningkatnya beban subsidi energi.

NOW ON AIR SSFM 100

