Menurutnya, koreksi yang terjadi di sejumlah bursa saham global, khususnya sektor teknologi yang sebelumnya terdorong euforia kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membuka peluang terjadinya rotasi investasi menuju pasar negara berkembang atau emerging market, termasuk Indonesia.
Ia menilai valuasi saham di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan beberapa pasar regional sehingga berpotensi menarik minat investor asing apabila kondisi makroekonomi domestik tetap terjaga.
“Dengan valuasi IHSG yang relatif lebih menarik dibandingkan beberapa pasar regional, Indonesia berpotensi menjadi salah satu tujuan aliran modal asing apabila kondisi makroekonomi domestik tetap terjaga,” ujarnya dilansir dari Antara.
Selain itu, Hendra mengatakan pasar juga menaruh harapan pada laporan keuangan kuartal II dan semester I 2026 yang diperkirakan menunjukkan perbaikan kinerja emiten. Kondisi tersebut diproyeksikan menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Sentimen positif lainnya berasal dari nilai tukar rupiah yang diperkirakan semakin stabil berkat komitmen Bank Indonesia menjaga kurs serta imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang masih kompetitif dibandingkan negara lain.

NOW ON AIR SSFM 100

