Dari pasar global, pelaku pasar mencermati sejumlah tekanan yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Faktor tersebut antara lain ketidakpastian perang AS dengan Iran, harga minyak yang telah melewati 100 dolar AS per barel, potensi kenaikan inflasi, serta imbal hasil US Treasury 10 tahun yang menembus 5 persen dan berada di level 5,04 persen.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat FOMC September 2026 telah berada di kisaran 92-93 persen.
“Kondisi tersebut membuat The Fed sulit rasanya untuk tidak menaikkan tingkat suku bunganya,” kata Nico dilansir dari Antara.
Menurut Nico, jika The Fed justru mempertahankan suku bunga acuannya, pelaku pasar dan investor berpotensi tetap menuntut imbal hasil US Treasury pada level yang lebih tinggi.








