“Menurut saya kemarin sangat produktif, hampir kurang lebih tiga jam Dewan Ekonomi Nasional memberikan paparan mengenai kondisi ekonomi kita,” ujarnya.
Dia menjelaskan, salah satu fokus pembahasan adalah langkah antisipasi pemerintah terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi perekonomian global, termasuk harga minyak dunia.
“Kita perlu mengantisipasi beberapa hal, terutama menjaga masalah fiskal kita manakala menghangatnya dinamika itu misalnya akan berpengaruh kembali terhadap harga minyak. Meskipun dapat kami sampaikan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, berkenaan dengan suplai minyak kita aman, meskipun dinamika di Timur Tengah maupun di Selat Hormuz kembali menghangat,” ujar Prasetyo.
Selain kondisi geopolitik, Prasetyo mengakui pemerintah juga memberi perhatian terhadap pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat berada di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
“Tentu itu menjadi salah satu bagian. Ketika kita bicara ekonomi, mulai dari makro sampai ke mikronya. Bapak Presiden selain menerima update dari seluruh program yang sedang dijalankan, beliau juga memberi penekanan untuk mempercepat pelaksanaannya,” katanya.

NOW ON AIR SSFM 100

