Rabu, 8 Juli 2026

Pakar Desak Mitigasi Pelemahan Rupiah dan Kurangi Ketergantungan Impor

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi - Teller memegang mata uang Dolar AS dan Rupiah di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. Foto: Antara

Muhammad Ubaidillah Al Mustofa pakar ekonomi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menekankan pentingnya mitigasi terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini.

Hal itu dikatakan, menyusul nilai tukar rupiah yang bergerak pada kondisi tidak stabil hingga menembus angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi itu menurutnya, menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku usaha, khususnya para importir hingga masyarakat luas.

Ia menegaskan, depresiasi nilai tukar rupiah dapat menjadi early warning indicator bagi kondisi perekonomian nasional, karena pelemahan rupiah akan berdampak besar apabila ketergantungan terhadap barang impor masih tinggi.

“Jika rupiah terus terdepresiasi sedangkan kebutuhan konsumsi masih didominasi produk impor, maka kondisi ini dapat merugikan perekonomian dalam jangka panjang,” katanya, Selasa (19/5/2026).

Ubaid menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik global seperti konflik di kawasan Timur Tengah dan potensi penutupan Selat Hormuz menyebabkan kenaikan harga minyak dan energi dunia. Kondisi tersebut juga berdampak pada meningkatnya harga berbagai komoditas utama yang bergantung pada perdagangan global, termasuk energi dan bahan baku industri.

Sementara faktor internal berasal dari sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah di bidang industri dan investasi. Menurutnya, ketidakpastian kebijakan dapat memicu capital outflow atau keluarnya modal asing dari Indonesia.

“Ketika investor menarik investasinya dalam bentuk dolar AS, maka permintaan dolar meningkat dan nilai rupiah semakin tertekan,” tuturnya.

Meski demikian, ia menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada level grassroot masih relatif kuat karena ditopang oleh sektor usaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia menyebutkan, kekuatan konsumsi domestik dan aktivitas UMKM dapat menjadi penyangga perekonomian di tengah tekanan ekonomi global.

Namun ia menekankan perlunya program peningkatan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar internasional.

“UMKM perlu naik kelas, memiliki pasar ekspor, dan mampu bersaing secara global,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya penguatan hilirisasi sumber daya alam (SDA) dalam memperbaiki ketahanan ekonomi nasional, karena ia memandang Indonesia selama ini masih banyak mengekspor bahan mentah lalu mengimpor kembali produk olahannya dengan harga lebih mahal.

“Fokus pengembangan komoditas menjadi barang setengah jadi atau barang jadi dapat meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia,” ujarnya.

Dalam sektor industri, ia mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah diperkirakan akan meningkatkan biaya impor berbagai komoditas, khususnya barang yang memiliki ketergantungan impor tinggi. Kondisi itu menurutnya, berpotensi memicu kenaikan harga akibat impor yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok di masyarakat.

“Kenaikan harga bahan baku energi, hingga kebutuhan pokok lainnya dapat menurunkan daya beli masyarakat,” ucapnya.

Dengan kondisi itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif saat ini. Ia menyarankan agar masyarakat perlu menghindari pola belanja yang berlebihan, serta mengurangi pengeluaran berdasarkan keinginan. Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari pinjaman dengan bunga tinggi karena fluktuasi ekonomi dapat memengaruhi tingkat suku bunga.

Pihaknya juga memastikan bahwa ITS akan terus berupaya mendorong penguatan ekonomi berbasis inovasi dan pengembangan UMKM agar mampu beradaptasi menghadapi tantangan global.

“Hal itu sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Berkelanjutan,” pungkasnya. (ris/saf/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Rabu, 8 Juli 2026
28o
Kurs