Senin, 15 Agustus 2022

Bukan Hanya Uang, di Tengah Pandemi Covid-19 Relasi Antar Keluarga Juga Penting

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Seminar secara daring membahas peran uang di tengah pandemi Covid-19. Foto: Istimewa

Fakultas Psikologi Ubaya pada seminar daringnya, kupas peran uang dalam menggapai kebahagiaan di tengah pandemi Covid-19. Relasi antar anggota keluarga juga penting.

Tema Antara Uang dan Kebahagiaan, dipilih Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) pada seminar daring, menelisik peran uang untuk kebahagiaan di tengah pandemi Covid-19.

Sekitar 115 peserta mengikuti seminar daring melalui aplikasi zoom dengan tema Antara Uang dan Kebahagiaan yang sengaja dikupas Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) membahas peran uang dalam menggapai kebahagiaan di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Mengundang dua nara sumber, Honey Wahyuni Sugiharto Elgeka, S.Psi., M.Ed dan Taufik Akbar Rizqi Yunanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, keduanya adalah pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, yang memberikan wawasan dan bahasan terkait materi dan tema pada seminar yang digelar untuk mahasiswa dan masyarakat umum tersebut.

Diawali dengan pengenalan tentang teori kebutuhan dari Abraham Maslow, yang menjelaskan makna dari kebutuhan manusia. “Uang adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia yang ada di posisi physiological,” papar Honey mengawali seminar secara daring tersebut.

Hal itu bisa terjadi, kata Honey karena ketika manusia mempunyai uang maka semua kebutuhan dasarnya akan terpenuhi. “Ketika kebutuhan fisik ini terpenuhi maka kebutuhan psikologi seperti safety, love and belonging, esteem, dan self-actualization juga secara otomatis akan terpenuhi,” kata Honey.

Pada situasi seperti saat ini, Honey menyampaikan beberapa saran agar masyarakat tetap bisa berbahagia di tengah pandemi Covid-19 dengan sudut pandang melalui psikologi ekonomi. “Kita melihat uang sebagai alat untuk menjadi sesuatu bukan sebagai sumber kebahagiaan,” ujar Honey.

Meluangkan waktu untuk keluarga, lanjut Honey juga dapat membantu masyarakat guna mendapatkan kebahagiaan sekaligus menghemat pengeluaran di tengah pandemi Covid-19. “Kita perlu memiliki perspektif yang benar mengenai penggunaan uang dan mencari kebahagiaan jangka panjang yaitu eudaimonia,” tegas Honey.

Ditambahkan Taufik Akbar Rizqi Yunanto, S.Psi., M.Psi., sebagai nara sumber bahwa ketika ekonomi sedang baik, hal itu justru membuat banyak orang stress. “Meskipun kebutuhan dasar kita terpenuhi, masih saja kita belum puas. Kepuasan itu hal yang tidak akan bisa kita penuhi karena sifatnya hanya sesaat,” tegas Taufik pada paparannya setelah Honey.

Hal ini, lanjut Taufik disebabkan oleh manusia yang selalu ingin lebih dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh dan dicapainya. “Kita akan bahagia kalau kita dapat membuat orang lain bahagia. Jadi bahagia dengan berbagi tanpa menjatuhkan orang lain,” papar taufik.

Kunci agar tetap dapat bahagia dalam perpektif psikologi positif, menurut Taufik ialah perlunya ada pengendalian emosi dalam diri sendiri, dan hal itu dapat diatasi dengan cara menyeimbangkan antara emosi positif dan negatif.

“Jadi yang membuat kita tidak bahagia itu sebenarnya karena kita melakukan blocking terhadap emosi,” tegas Taufik, Jumat (8/5/2020). Karena itu Taufik mengingatkan pentingnya membangun relasi pada keluarga, agar antara anggota keluarga dapat saling terbuka satu sama lain serta saling mendukung di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Seminar secara daring, sebelumnya juga pernah digelar Universitas Surabaya dalam berbagai konteks kajian serta tema yang berbeda-beda. Dan diselenggarakan oleh sejumlah fakultas.(tok/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Senin, 15 Agustus 2022
25o
Kurs