Kamis, 11 Agustus 2022

Musisi Tradisional Dituntut Terbuka dengan Kolaborasi

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Penampilan Krakatau Band yang sering berkolaborasi dengan musisi tradisional. Foto : Istimewa

Musik di mata Dwiki Dharmawan, musikus, komponis, dan produser musik Indonesia, adalah bagian dari ekspresi budaya yang sifatnya universal dan multidimensional. Oleh karena itu, eksplorasi dalam musik itu sebetulnya tidak terbatas.

“Saya suka sekali merepresentasikan nilai-nilai kemanusiaan dan mengangkat kelokalan yang ada di Indonesia yang justru merupakan kekayaan ultimate in diversity dari Indonesia. Dengan begitu karya musik kita bisa memiliki peran yang strategis juga mempromosikan Indonesia dengan musik yang genuine dan juga mengangkat keberagaman itu merupakan suatu keindahan tersendiri dalam membuat komposisi musik,” ujarnya kepada Radio Suara Surabaya pada Hari Musik Nasional, Selasa (9/3/2021).

Musik tradisonal, kata Dwiki, tumbuh sejalan dengan peristiwa-peristiwa budaya lainnya. Tidak terpisahkan dari tari, ritual upacara keagamaan, atau ekspresi budaya lainnya seperti syukuran, pernikahan, sunatan, atau kelahiran. Kalau peristiwa budaya itu sudah jarang diadakan, musisi tradisional akhirnya tidak diberdayakan.

Dwiki mencontohkan nasib Gordang Sambilan adalah warisan budaya asli milik masyarakat Mandailing Natal, Sumatera Utara. Dulu kalau ada pernikahan, semua alat musik tradisional itu dipakai. Lama-lama, kini hanya pakai organ tunggal dengan salah satu pemain serunainya saja.

“Makanya, musisi tradisional sekarang dituntut untuk terbuka. Kuncinya di masa sekarang adalah kolaborasi sehingga menghasilkan karya musik berbasis tradisi,” kata Dwiki.

Dwiki Dharmawan musisi saat berada di Radio Suara Surabaya, Senin (10/12/2018) malam. Foto: Dok.suarasurabaya.net

Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, musisi merasakan kesunyian karena acara off air tidak ada. Bagi musisi yang berkecimpung di dunia rekaman, tentu “masa sunyi” ini bisa dipakai untuk menghasilkan karya baru di dapur rekaman. Namun, bagi musisi yang tidak punya rencana rekaman atau produksi, ini bisa jadi sangat menyulitkan karena kehidupannya sangat tergantung dengan kegiatan yang sifatnya tatap muka langsung.

“Peran kita semua harus bantu mempromosikan musik tradisonal dan musik berbahasa daerah. Di AMI Awards kami sudah mengadakan kategori musik berbahasa daerah terbaik. Lagu berbahasa Flores dan Jawa sudah pernah menjadi lagu berbahasa daerah terbaik. Banyak industri musik berbahasa daerah yang tumbuh pesat di daerahnya sendiri dan daerah tetangga,” kata Dwiki.

Selain itu, lembaga penyiaran publik juga tidak boleh berhenti mempromosikan musik tradisonal dan musik berbahasa daerah. “Banyak lagu berbahasa daerah yang mencuat secara nasional misalnya lagu-lagu yang dipopulerkan Didi Kempot, lalu lagu Gemu Famire,” ujarnya.(iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Kecelakaan Truk Terguling di KM 750 Tol Waru

Surabaya
Kamis, 11 Agustus 2022
26o
Kurs