Kamis, 13 Juni 2024

Atasi Krisis Air Bersih di Pamekasan, Pengmas Unusa Bangun Instalasi

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Santri Addurriyah Nyantren, Pamekasan sedang mengikuti pelatihan tentang cara mengetahui kandungan air layak minum pada bidang tanah. Foto: Humas Unusa

Pengabdian masyarkat (Pengmas) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bantu solusi krisis air di Pamekasan secara mandiri dan berkelanjutan, di Pondok Pesantren Addurriyah Nyantren Desa Bangkes, Kadur, Pamekasan.

Pengmas yang diwujudkan dalam bentuk pembangunan instalasi air bersih tersebut telah diserah terimakan dari Unusa kepada pengasuh pondok pesantren. Selain penyerahan satu paket intalasi air bersih, sebelumnya kegiatan Pengmas juga memberikan pelatihan bagaimana warga ponpes dan masyarakat sekitarnya dapat mengelola dan menyiapkan air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Kyai As’ad, Ketua Yayasan Khalid bin Walid yang menaungi Ponpes Addurriyah berterima kasih atas yang sudah diberikan Unusa melalui Pengmas terkait dengan pembangunan dan pelatihan untuk mengelola air bersih.

“Sebelumnya kondisi air di sini sangat keruh dan tidak layak konsumsi. Padahal air sangat dibutuhkan bagi santri, baik untuk mandi, wudhu hingga masak. Saya berterima kasih ada kampus yang tergerak untuk melakukan pengabdian masyarakat agar air layak digunakan. Selama ini kami kesusahan dalam memperoleh air bersih apalagi masuk musim kemarau, air sangat susah,” ujar Kyai As’ad, Selasa (4/1/2022).

H.M. Lutfi, anggota DPRD Pamekasan berharap apa yang sudah diberikan Unusa kepada Ponpes bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

“Saya melihat apa yang dilakukan dalam Pengmas Unusa sangat revolusioner, terutama dalam mengatasi krisis air di Kabupaten Pamekasan. Mudah-mudahan dapat ditiru di daerah lain,” sambung M. Lutfi.

M. Lutfi juga berharap Pemkab Pamekasan harus bisa bersinergi agar program mengatasi krisis air di Pamekasan bisa berkelanjutan dan tidak sebatas pada hasil penelitian dan Pengmas saja, tapi juga perlu dikembangkan, karena untuk daerah kering dan kritis di Pamekasan kebutuhan air untuk minum mengandung zat padat yang terlarut dalam air sangat tinggi. Ini perlu dijelaskan pada masyarakat sebagaimana yang telah dilakukan oleh Unusa.

“Saya juga berharap hendaknya Unusa dapat terus mendampingi dan memberi pembelajaran kepada masyarakat, sehingga mereka sadar akan pentingnya air bersih,” ujar M. Lutfi.

Sebelumnya Ponpes sudah membuat lima titik sumur bor, namun hanya dua sumber air yang dapat digunakan. Dari dua sumber air itu satu sumber kondisi airnya keruh serta berdebu dan mengandung kapur. Untuk bisa memperoleh air bersih, pondok pesantren harus mengebor wilayah tersebut hingga ke dalam 100 meter baru bisa digunakan.

Melihat kondisi lapangan yang diceritakan pimpinan Ponpes, Achmad Syafiuddin, S.Si., M.Phil., Ph.D., Ketua LPPM Unusa mengaku prihatin dan melakukan Pengmas di ponpes tersebut.

“Sudah jelas jika kondisi air yang ada di wilayah tersebut tidak layak, karena keruh serta ada bintik putih yang jika lama akan licin, sehingga tidak layak untuk konsumsi karena air sudah tercemar,” kata Syafiuddin.

Keprihatinannya ini juga yang mendorong Syafiuddin melakukan Pengmas di Ponpes Addurriyah dengan memberikan pelatihan sekaligus mendesain instalasi air bersih.

“Jika kami hanya mengajarkan bagaimana memanfaatkan air yang semula tidak layak pakai menjadi layak minum dalam bentuk ceramah saja, rasanya kurang afdol, karena itulah kami bangunkan instalasi sebagai contoh nyata dan sekaligus bisa dimanfaatkan. Mudah-mudahan bisa dicontoh dengan yang lain,” papar Syafiuddin.

Syafiuddin berharap adanya triple helix yang tepat antara Universitas, Mitra, dan Pemerintah.

“Dengan begitu masalah air bersih ini akan teratasi dengan kerjasama yang baik antara ketiga unsur tersebut,” pungkas Syaifuddin.(tok/dfn/ipg)

Berita Terkait

..
Surabaya
Kamis, 13 Juni 2024
25o
Kurs