Sabtu, 21 Mei 2022

Gempa Pandeglang Banten Merupakan Tipe Foreshock

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi - Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat gempa di Kadu Agung Timur, Lebak, Banten, Jumat (14/1/2022). Foto: Antara

Mohamad Ramdhan peneliti ahli madya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, gempa yang terjadi di Kabupaten Pandeglang Banten magnitudo 6,6 pada Jumat (14/1/2022) lalu merupakan foreshock atau energi yang dirilis sedikit-sedikit sebelum main schok atau energi maksimal gempa.

Menurut kajian BMKG, Pulau Sumatra hingga Jawa bagian barat terdapat banyak pergeseran lempeng sumber gempa yang dapat menjadi ancaman. Sebab, sumber gempa selain dari zona subduksi, juga dari sesar Sumatra dan sesar yang ada di Jawa.

Selain itu, longsoran Gunung Krakatau telah mengakibatkan tsunami pada 2018 dan paling fenomenal dengan ketinggian lebih dari 30 meter akibat erupsi 1883.

“Jawa bagian barat ada ibu kota, penduduk tinggi, daerah wisata. Tugas kita semua meningkatkan kesiapsiagaan kita meningkatkan adaptasi dengan fenomena alam,” ujar dia, Jumat (21/1/2022) mengutip dari Antara.

Dibandingkan dengan gempa di Malang M6,0, karakter gempa Banten terbilang merusak. Sebab terjadi selama lebih dari 12 detik dan menurut pengalaman di lapangan menyebabkan 3.000 lebih rumah rusak.

Gempa Banten tidak menghasilkan tsunami, karena tidak cukup kuat energinya untuk menghasilkan deformasi signifikan di permukaan bawah laut.

“Gempa selatan Banten, menurut BMKG, terjadi di zona subduksi, masih kita diskusikan lagi di zona interplate atau transisi, karena selain kedalamannya menengah, karakternya antara keduanya,” katanya.

Hasil perubahan coloumb stress dan sebaran aftershock menunjukkan rambatan rupture ke arah vertikal.

BMKG telah mendiseminasikan peringatan dini gempa lima menit sebelum kejadian, dan memperbarui perubahan magnitudo berdasarkan data gempa yang diolah secara sistematik

Selain itu menurut Ramdhan fenomena alam seperti gempa, tsunami, dan erupsi di Selat Sunda, Banten, akan menjadi bencana jika masyarakat tidak beradaptasi. Adaptasi menjadi penting lantaran kawasan tersebut memiliki potensi gempa maksimal magnitudo (M) 8,7 dengan potensi tsunami hingga 20 meter.

“Seandainya terjadi kita harus siap, gempa bumi, tsunami dan erupsi untuk memikirkan bagaimana beradaptasi,” ujar Ramdhan.(ant/dfn/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 21 Mei 2022
29o
Kurs